Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pelaku pasar global. Dampaknya terhadap pasar saham dinilai sangat bergantung pada durasi konflik dan stabilitas pasokan energi, khususnya minyak.
Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia Rizki Ardhi mengungkapkan, jika gangguan pasokan minyak bersifat sementara, dampaknya terhadap ekonomi global relatif terbatas. Namun, eskalasi konflik berkepanjangan berpotensi menekan perekonomian secara lebih luas.
“Risiko terbesar ada pada potensi disrupsi pasokan minyak berskala besar, terutama jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terdampak,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga: IHSG Melemah 0,68% ke 7.623 pada Rabu (15/4), BUMI, BBCA, BRPT Jadi Top Losers LQ45
Meski demikian, proyeksi terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi global masih cenderung stabil. Pasar memperkirakan lonjakan harga minyak hanya bersifat sementara, dengan rata-rata harga minyak tahun ini berada di kisaran US$ 84 per barel.
Dari sisi inflasi, kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi global pada 2026. Namun, tekanan tersebut dinilai masih terkonsentrasi pada sektor tertentu dan belum menyebar luas.
“Inflasi inti relatif terjaga, sehingga tekanan bagi bank sentral global untuk melakukan pengetatan moneter agresif masih terbatas,” jelasnya.
Di Amerika Serikat, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed juga belum mengalami perubahan signifikan. Ketua The Fed Jerome Powell disebut masih melihat ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Sementara di dalam negeri, Bank Indonesia tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah. Pada Rapat Dewan Gubernur Maret lalu, BI tidak memberikan sinyal penurunan suku bunga, mencerminkan sikap kehati-hatian di tengah ketidakpastian global.
Di sisi fiskal, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM dinilai berdampak positif bagi daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi. Namun, kebijakan ini berimplikasi pada kenaikan beban subsidi energi.
Baca Juga: Royaltama Mulia Kontraktindo (RMKO) Incar Dana Rp 159,9 Miliar dari Rights Issue
Dengan asumsi harga minyak mencapai US$85 per barel, subsidi energi berpotensi meningkat sekitar Rp103 triliun atau 0,4% dari produk domestik bruto. Meski begitu, tekanan tersebut dinilai masih dapat diimbangi melalui efisiensi anggaran pemerintah.
Dari perspektif pasar saham, Rizki menyebut dampak lonjakan harga minyak umumnya bersifat sementara, kecuali disertai kondisi makro yang lebih berat seperti resesi global.
Dalam pengelolaan portofolio, Manulife AM mengedepankan strategi diversifikasi untuk menghadapi berbagai skenario. Sektor energi dan komoditas dinilai dapat menjadi lindung nilai terhadap volatilitas nilai tukar dan harga energi.
Namun, untuk sektor komoditas, pendekatan yang dilakukan lebih selektif. Beberapa komoditas seperti tembaga, aluminium, dan emas dinilai memiliki prospek positif karena didukung tren struktural seperti transisi energi bersih.
Di sisi lain, sektor konsumsi domestik dinilai mulai menarik seiring valuasi yang relatif murah dan potensi pemulihan ekonomi.
Terkait risiko penurunan peringkat pasar saham Indonesia oleh MSCI, Rizki menilai regulator telah menunjukkan komitmen dalam memperbaiki struktur pasar dan meningkatkan transparansi.
Dalam skenario terburuk jika Indonesia turun ke kategori frontier market, tekanan jual dari investor asing berpotensi terjadi. Namun, kondisi tersebut juga dapat membuka peluang akumulasi pada saham dengan valuasi murah dan fundamental kuat.
“Investor sebaiknya fokus pada saham yang memiliki fundamental baik, menghasilkan arus kas yang kuat, serta mampu memberikan dividen atau melakukan buyback,” ujarnya.
Untuk investor jangka panjang, sektor yang sensitif terhadap dolar AS dan harga minyak diperkirakan akan bergerak lebih cepat dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, sektor konsumsi tetap menjadi pilihan menarik seiring potensi penurunan biaya input dan pertumbuhan ekonomi domestik.
Baca Juga: AS Blokade Selat Hormuz, Rupiah Melemah ke Rp 17.143 per Dolar AS
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













