Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Havid Vebri
JAKARTA. Harga batubara semakin suram di tengah berkurangnya konsumsi global. Namun, adanya pengembangan teknologi untuk mengurangi dampak polusi batubara menjadi harapan di masa mendatang.
Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, konsumsi batubara telah mencatat sejarah penurunan terbesar. Penggunaan batubara pada pembangkit listrik China sudah turun 4% pada tiga kuartal pertama tahun ini dengan impor yang tergerus 31%.
China merupakan konsumen yang menguasai sekitar 50% permintaan batubara dunia. Sejak akhir 2013, pertumbuhan konsumsi listrik di negeri tembok raksasa sebagian besar sudah tertutupi oleh energi terbarukan.
Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT First Asia Futures mengatakan, konsumsi batubara China mencapai 4 miliar ton per tahun. "China memang sudah mengambil langkah untuk mengurangi konsumsi," ujarnya.
Sementara di Amerika Serikat (AS), porsi batubara yang digunakan untuk menghasilkan tenaga listrik diperkirakan jatuh 36% tahun ini dari 50% pada satu dekade sebelumnya. Lebih dari 200 pembangkit listrik tenaga batubara di AS dengan kapasitas 83 gigawatt sudah disiapkan untuk pensiun, termasuk 13 pembangkit tahun ini.
Deddy bilang, produksi batubara AS sudah jatuh ke level terendah dalam 20 tahun. Tahun ini AS hanya memproduksi batubara sekitar 1 miliar ton. "Pada semester pertama tahun ini ada 151 tambang batubara AS yg mempekerjakan 2.658 pekerja telah menghentikan produksi," paparnya.
Di tengah berkurangnya tingkat konsumsi, harapan penggunaan batubara datang dari negeri sakura. Pemerintah Jepang berencana mendukung pengembangan teknologi baru untuk batubara sehingga dapat mengurangi kerusakan lingkungan.
Proyek yang disebut Hiroshima project ini akan mengembangkan teknologi sehingga proses pembakaran batubara bisa lebih bersih dan efisien. Saat ini, Jepang memiliki sekitar 23 gigawatt dengan bahan bakar batubara. "Teknologi ini nantinya berpotensi mengurangi emisi karbondioksida sebesar 30%," ungkap Deddy.
Proyek jangka panjang tersebut diperkirakan menelan biaya hingga 89,5 miliar yen atau sekitar US$ 736 juta. Pemerintah Jepang akan membiayai sepertiga dari total investasi. "Walau masih panjang namun hal tersebut memberikan sinyal positif bagi batubara dalam jangka panjang," imbuh Deddy.
Sementara hingga akhir tahun ini, Deddy memprediksi harga batubara masih akan bergulir di kisaran US$ 45 - US$ 55 per metrik ton. Mengutip Bloomberg, Senin (9/11) harga batubara kontrak pengiriman Januari 2016 di ICE Futures Exchange naik tipis 0,3% dibanding sehari sebelumnya menjadi US$ 52,55 per metrik ton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News