kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Banyak emiten menunda rencana IPO hingga BEI sepi emisi jumbo, ada apa?


Rabu, 27 November 2019 / 18:04 WIB
Banyak emiten menunda rencana IPO hingga BEI sepi emisi jumbo, ada apa?
ILUSTRASI. Pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia.

Reporter: Benedicta Prima | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak awal tahun hingga Rabu (27/11) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat sudah melemah 2,77% ke level 6,023.19. Pergerakan indeks tersebut mencerminkan kondisi pasar dalam tren lesu. 

Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan kondisi pasar yang lesu ini bisa menjadi alasan perusahaan menunda penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO). Salah satunya PT PP Tbk (PTPP) yang menunda membawa anak perusahaannya IPO hingga 2020. 

"Karena dengan kondisi pasar yang bearish, supaya investor tertarik pasti menawarkan harga murah. Sedangkan, mungkin pihak mereka tidak ingin jika perolehannya rendah," ujar Sukarno kepada Kontan.co.id, Rabu (27/11). 

Baca Juga: Anak usaha PT PP Tbk (PTPP) baru akan melantai di BEI tahun 2021

Selain PTPP, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga batal mengantar anak usahanya IPO tahun ini. Perusahaan penerbangan swasta Lion Air juga batal IPO tahun ini. 

Sukarno menambahkan, kondisi pasar yang lesu ini bisa disebabkan oleh faktor eksternal seperti perang dagang Amerika Serikat (AS) - China yang belum ada kepastian hingga saat ini. 

"Dengan kondisi ini, menjadi alasan emiten dengan emisi yang besar takut tidak terserap," ujar dia. 

Kontan.co.id mencatat, sejak awal 2018 hingga saat ini bursa juga sepi IPO dengan emisi di atas Rp 1 triliun. Tercatat hanya ada lima perusahaan dengan emisi besar yang berani melantai. Perusahaan tersebut adalah PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS) yang melantai pada 9 Mei 2018 dengan emisi Rp 1,34 triliun, dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) yang melantai pada 16 mei 2018 dengan emisi Rp 1,3 triliun. 

Kemudian PT Phapros Tbk (PEHA) yang melantai pada 26 Desember 2018 dengan emisi Rp 1,1 triliun, PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE) yang melantai pada 9 Juli 2019 dengan emisi Rp 4,76 triliun dan PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) yang melantai pada 19 September 2019 dengan emisi Rp 1,03 triliun. 

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus menambahkan tahun ini pasar dalam negeri cukup banyak kehilangan momentum mulai dari gelaran pemilu hingga kesepakatan perang dagang AS-China yang tak kunjung usai. 

Kendati begitu, Nico menilai IHSG masih bisa pulih terutama bila ada kesepakatan damai perang dagang AS-China. Selain itu pulihnya ekonomi China yang merupakan bagian penting dalam mata rantai pasokan global dan kesepakatan Brexit yang bisa mengurangi dampak negatif terhadap perekonomian Eropa. 

Baca Juga: Investor Reksadana Diminta Tidak Gegabah Mencairkan Reksadana

"Kesepakatan AS-China akan menjadi booster yang paling penting. Kami berharap kesepakatan dapat diselesaikan sebelum tahun ini berakhir," ujar dia. 

Bila kesepakatan tersebut terealisasikan, Nico memproyeksikan IHSG di rentang 6.350-6.450. Sementara itu Sukarno memproyeksikan IHSG di kisaran 6.100. 




TERBARU

Close [X]
×