Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) melakukan sejumlah manuver sepanjang tahun 2025 seusai berganti pengendali.
Usai menjadi pengendali saham ANJT lewat transaksi Rp 5,54 triliun melalui First Resources Limited pada 3 Oktober 2025 lalu, keluarga Ciliandra Fangiono mulai melakukan berbagai pembenahan.
Di antaranya, melakukan perubahan logo ANJT dan menghentikan tiga entitas anak usaha sekaligus. Yaitu, PT Austindo Nusantara Jaya Boga, PT ANJ Agri Papua, dan PT Gading Mas.
Ketiga perusahaan itu bergerak di bisnis edamame dan tepung sagu. Manajemen ANJT bilang, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan evaluasi kinerja operasional dan keuangan.
“Direksi menilai bahwa kegiatan operasional entitas-entitas anak tersebut tidak lagi sejalan dengan strategi bisnis jangka menengah dan jangka panjang perseroan,” ujarnya dalam keterbukaan informasi tanggal 31 Desember 2025.
Baca Juga: Meski Lesu, Saham Big Caps LQ45 Masih Punya Peluang Bangkit di 2026
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, hadirnya pengendali baru membuat pasar memiliki ekspektasi kuat pada potensi pertumbuhan ANJT ke depan. Apalagi, jka fokus bisnis yang dijalankan ANJT tereksekusi dengan baik sepanjang tahun 2025 dan berlanjut hingga 2026 ini.
Sebagai gambaran, pendapatan ANJT tercatat US$ 187,78 juta per kuartal III 2025. Ini naik 11,5% secara tahunan alias year on year (YoY) dari US$ 168,41 juta.
ANJT mengantongi laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih sebesar US$ 24,28 juta per September 2025, naik 1.520,39% YoY dari US$ 1,49 juta.
Head of Research Kisi Sekuritas, Muhammad Wafi bilang, prospek jangka panjang ANJT masih bagus. Sebab, ANJT terkenal suka melakukan efisiensi, sehingga wajar ketika ada perampingan agar fokus ke bisnis sawit yang lebih menguntungkan.
“Laba sepanjang tahun 2025 kemungkinan akan agak tertekan lantaran biaya restrukturisasi. Namun, bisa dianggap tahun 2025 adalah fase bersih-bersih supaya kinerja keuangan di tahun 2026 lebih bagus,” ujarnya kepada Kontan, Senin (5/1/2026).
Di tahun 2026, dampak dari efisiensi tersebut kemungkinan akan mulai tampak dengan kenaikan drastis margin perseroan.
Sentimen positif untuk kinerja ANJT berasal dari kebijakan B40-B50 yang menjaga harga CPO di level tinggi. Kondisi tersebut juga didukung oleh usia tanaman ANJT yang tengah ada dalam fase produktif.
Saat ini, price to earning ratio (PER) ANJT ada di level 11,11x dan price to book value (PBV) 0,88x. Artinya, saham ANJT ada di level undervalued dengan potensi mulai berakhirnya fase penurunan.
“Valuasi sekarang masih undervalued, karena pasar belum priced in denga potensi efisiensi yang akan terjadi di tahun 2026,” katanya.
Nafan pun merekomendasikan accumulative buy untuk saham ANJT dengan target harga Rp 1.875 per saham. Sementara, Wafi merekomendasikan beli untuk saham ANJT dengan target harga Rp 2.100 per saham.
Baca Juga: Tak Hanya Elektronik, Erajaya (ERAA) Geber Pertumbuhan Bisnis dari Dua Segmen Ini
Selanjutnya: Presiden Korsel Buka Babak Baru Hubungan Korea-China, Tandai Pemulihan Penuh di 2026
Menarik Dibaca: 7 Barang di Ruang Tamu yang Sebaiknya Dijauhkan Jika Punya Hewan Peliharaan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













