Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID- JAKARTA. Di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diam-diam investor asing malah mencatatkan beli bersih alias net buy. Ini menunjukkan tekanan jual datang dari investor dalam negeri.
Chief Economist dan Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menjelaskan tekanan pada IHSG menyoroti kerentanan IHSG terhadap konsentrasi indeks dan risiko likuiditas pada saham-saham tertentu.
Menurutnya, struktur kepemilikan yang terkonsentrasi pada sejumlah perusahaan terafiliasi dengan konglomerasi dapat memperbesar pergerakan harga ketika posisi investor mengalami perubahan.
Baca Juga: IHSG Melonjak 1,04% ke 6.093, Cek Saham Net Buy Terbesar Asing di Akhir Pekan
“Meskipun kekhawatiran terhadap valuasi dan penyesuaian portofolio mungkin turut berkontribusi terhadap aksi jual, belum terdapat bukti yang cukup untuk mengidentifikasi satu pemicu utama,” tulis Rully dalam riset yang dirilis, Senin (12/10/2026).
Dia menilai koreksi ini mencerminkan kombinasi konsentrasi indeks, sensitivitas likuiditas, dan melemahnya selera risiko, alih-alih penurunan fundamental perusahaan yang dapat diidentifikasi secara jelas.
Pada perdagangan Selasa (13/10), IHSG ditutup melemah 0,17% ke level 5,925.97, tetapi investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 570,40 miliar atau setara dengan US$ 31,81 juta.
Bahkan pada perdagangan 12 Oktober 2026, saat IHSG terperosok 2,59% atau turun 157,61 poin, investor asing malah mencatatkan net buy sebesar Rp 142,75 miliar atau setara dengan US$ 7,98 juta.
Berdasarkan data RTI dari 9 Oktober–13 Oktober 2026, investor asing tercatat melakukan net buy terbesar di saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) sebesar Rp 680,44 juta. Di susul, PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) dengan net buy Rp 183,39 juta.
Baca Juga: Kinerja Saham Bervaluasi Murah Berpeluang Pulih, Cermati Rekomendasi Analis
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan walaupun dalam beberapa hari terakhir investor mencatatkan net buy, tetapi secara tahun berjalan ini asing masih mencatatkan jual beli.
“Tetapi sepanjang 2026 ini, net sell investor asing terburuk dibandingkan 1998 dan 2008. Oleh karena itu, perlu menunggu apakah asing benar-benar sudah mulai masuk ke pasar saham Indonesia,” tuturnya kepada Kontan, Selasa (13/10/2026).
Memang kalau dicermati sepanjang 2026 berjalan, investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp 84,28 triliun per Selasa (13/10). Ini lebih buruk dari posisi 2008 dengan net sell asing sebesar Rp 50,17 triliun.
Budi menyebut ada empat indikator utama agar asing kembali lagi ke pasar saham Indonesia.
Yakni kombinasi antara stabilitas rupiah, yield US Treasury atau dolar AS yang melemah, laba emiten direvisi naik dan kebijakan fiskal yang bisa dan mendukung rakyat.
Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta bilang net buy di tengah koreksi IHSG merupakan sinyal yang layak dicermati investor, tetapi aliran dana ini dipengaruhi oleh berbagai sentimen.
Baca Juga: IHSG Uji Resistance, Cek Rekomendasi Saham Sinarmas Sekuritas Selasa (6/10)
“Investor sebaiknya tidak langsung menganggap net buy asing sebagai konfirmasi IHSG telah mencapai titik terendah, sebab arus dana harian masih dapat dipengaruhi rebalancing indeks dan strategi jangka pendek,” katanya.
Nafan menyebut reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal menjadi fondasi penting untuk memulihkan kepercayaan investor institusi global.
Menurutnya, peningkatan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi, dan integritas perdagangan sejalan dengan perhatian MSCI terhadap transparansi struktur kepemilikan serta akurasi pengukuran saham beredar publik atau free float.
“Namun keberhasilan reformasi tidak cukup diukur dari beli bersih asing selama dua atau tiga hari. Pasar membutuhkan perbaikan likuiditas, keterbukaan informasi, kepastian regulasi, dan arus modal asing berkelanjutan,” tutur Nafan.
Baca Juga: IHSG Melesat 1,21% ke 6.192, Cermati Saham Net Buy Terbesar Asing, Selasa (6/10)
Untuk strategi investasi, Nafan menyarankan investor mulai menyusun akumulasi saham secara bertahap, tanpa terburu-buru melakukan pembelian agresif sekaligus. Pendekatan buy on weakness dapat dipertimbangkan pada saham berfundamental memadai.
Dia bilang investor perlu mempertimbangkan prospek pertumbuhan bisnis, likuiditas perdagangan, dan valuasi setelah koreksi. Selain itu, investor perlu memantau volume transaksi serta kemampuan harga saham bertahan di area support.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














