kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45892,79   -9,77   -1.08%
  • EMAS932.000 -0,11%
  • RD.SAHAM -0.23%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.08%

Aset reksadana pendapatan tetap sedang murah


Kamis, 25 Februari 2021 / 21:18 WIB
Aset reksadana pendapatan tetap sedang murah
ILUSTRASI. Harga obligasi turun dan menjadi peluang beli bagi investor.

Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana pendapatan tetap terkoreksi di tengah kenaikan yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun. Analis menilai ini saat yang tepat untuk menambah investasi di reksadana pendapatan tetap saat harga murah. 

Berdasarkan data Infovesta Utama, Kamis (24/2) rata-rata kinerja reksadana pendapatan tetap yang tercermin dalam Infovesta Fixed Income Fund Index menurun 1% secara year to date. Sedangkan, kinerja reksadana jenis lain positif. 

Penurunan kinerja ini terjadi di tengah kenaikan yield SUN tenor acuan hingga ke 6,5% per Kamis (25/2). Sebagai perbandingan, yield SUN di akhir tahun lalu bertengger di level 5,8%. 

Direktur Riset dan Kepala Investasi Alternatif Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo mengatakan pergerakan yield SUN yang naik membuat harga obligasi pemerintah yang menjadi aset reksadana pendapatan tetap jadi terkoreksi. Namun, Soni menilai penurunan kinerja reksadana pendapatan tetap secara rerata masih minim bila dibandingkan dengan penurunan harga obligasi pemerintah. "Kupon yang diterima reksadana pendapatan tetap membantu kinerja tidak turun sedalam pasar obligasi," kata Soni, Kamis (25/2). 

Baca Juga: Begini simulasi perhitungan pajak saham dan reksadana

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana juga mengatakan kinerja reksadana pendapatan tetap akan kembali positif jika aset obligasi pemerintah di reksadana pendapatan tetap sudah memberikan kupon tetapnya. Di sisi lain, Wawan menilai pasar obligasi saat ini sedang undervalued atau murah. "Yield di 6,5% menjadikan harga obligasi murah, time to buy atau tambah kepemilikan di reksadana pendapatan tetap," kata Wawan. 

Wawan mengingatkan risiko reksadana pendapatan tetap atau aset obligasi adalah kenaikan suku bunga. Sementara, Wawan menilai di tahun ini BI tidak memiliki alasan untuk menaikkan suku bunga karena ekonomi masih belum pulih benar. 

"Tahun ini tidak ada kenaikan suku bunga naik, jadi ketika gelombang penjualan di pasar obligasi sudah selesai maka kinerja reksadana pendapatan tetap berpotensi pulih kembali," kata Wawan. Apalagi jika pertumbuhan ekonomi berhasil tumbuh lebih baik tanpa disangka-sangka. Jika begitu, harga obligasi pemerintah bisa lompat.

Wawan memproyeksikan di tahun ini reksadana pendapatan tetap berpotensi menghasilkan imbal hasil 6,5% hingga 7%. Reksadana pendapatan tetap cocok dipegang selama dua tahun. 

Baca Juga: Ini instrumen investasi yang bisa jadi pilihan saat tren bunga rendah

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×