kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

ANTM yakin, pasar menyerap rights issue


Jumat, 18 September 2015 / 07:16 WIB
ANTM yakin, pasar menyerap rights issue


Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mempersiapkan diri untuk menerbitkan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue. Dana maksimal dari rights issue itu mencapai Rp 5,3 triliun.

Namun, dalam aksi korporasi yang rencananya berlangsung pada Oktober nanti, perseroan belum menunjuk pihak yang menjadi pembeli siaga. Johan Nababan, Plh Direktur Keuangan ANTM, mengatakan, perusahaan tak menutup kemungkinan ada pembeli siaga yang membantu dalam aksi korporasi itu.

Johan menyatakan ANTM belum memperoleh investor strategis yang siap menyerap HMETD ANTM. Meski belum ada investor strategis, manajemen ANTM yakin, rights issue tersebut bisa terserap maksimal. "Dengan track record ANTM sebagai perusahaan tambang terkemuka di Indonesia dan mendapatkan dukungan pemerintah, kami yakin transaksi ini dapat sambutan positif dari para investor," terang Johan dalam keterbukaan informasi, Kamis (17/9).

Seperti diketahui, ANTM akan menerbitkan saham HMETD maksimal 14,11 miliar dengan harga maksimum Rp 535 per saham. Nah, apabila dalam pelaksanaannya, HMETD tidak terserap investor publik, ANTM masih yakin, kekurangan dana bisa dipenuhi dari kas internal atau pinjaman pihak ketiga. ANTM harus menyelesaikan pabrik feronikel Halmahera Timur dengan tepat waktu untuk mendorong kinerja perusahaan.

Proyek pengembangan pabrik feronikel tahap I ini memiliki total estimasi biaya antara US$ 350 juta hingga US$ 450 juta. Perkiraannya, proyek tahap I bisa selesai pada tahun 2018 mendatang. Kelak, proyek itu bakal memiliki kapasitas produksi sebesar 13.500-15.000 TNi per tahun.

Johan mengemukakan, pembangunan pabrik feronikel di Halmahera Timur Tahap I akan meningkatkan nilai tambah cadangan nikel milik ANTM dan mendorong kinerja perseroan. Pengembangan pabrik itu juga merupakan pemenuhan Undang-Undang Minerba No.4 Tahun 2009 untuk meningkatkan industri hilir di Indonesia. Usai pembangunan pabrik, ANTM akan masuk ke industri stainless steel dan industri lain.

Harga saham ANTM kemarin ditutup naik 1,26% menjadi Rp 483 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×