kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Analis: Saham lapis kedua menarik untuk investasi jangka pendek


Senin, 02 Desember 2019 / 20:04 WIB
Analis: Saham lapis kedua menarik untuk investasi jangka pendek
ILUSTRASI. Investor sedang mengamati pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia

Reporter: Kenia Intan | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham kecil dan menengah yang tergabung dalam Pefindo25 mencatatkan kinerja yang apik dari awal tahun hingga Juli 2019. Bahkan, kenaikannya dari awal tahun mencapai 4,99% lebih tinggi dibanding kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada waktu itu tercatat 3,55%.

Mekipun kinerjanya sempat menurun pada Oktober sebesar 1,21%, dan November sebesar 4,29%, per Senin (2/12) Pefindo25 kembali mencatatkan pertumbuhan 0,44% year to date (ytd), sementara IHSG masih terkoreksi 1,04% ytd.

Baca Juga: IHSG melonjak 1,97% ke 6.130 di akhir perdagangan Senin (2/12)

Melihat hal ini, Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan saham kecil dan menengah masih menarik.

"Justru jadi pilihan yang bagus untuk trading jangka pendek," katanya ketika dihubungi Kontan.co.id, Senin (2/12).

Ia menyarankan saham kecil dan menengah untuk trading jangka pendek sebab masih dibayangi isu pelemahan ekonomi. Selain itu, asing masih dalam kondisi net sell, jadi menurut William pada dasarnya IHSG belum benar-benar aman.  

Jika ingin mengoleksi saham-saham kecil dan menengah, William menyarankan para investor untuk mencermati frekuensi perdagangannya. Saat ini, beberapa saham yang disarankan seperti SCMA, ITIC, TOWR, APLN, dan LSIP.  

Secara teknikal dan perdagangan, empat saham tersebut terlihat meningkat sehingga layak untuk diperdagangkan dalam jangka pendek.

Willim menargetkan harga saham SCMA Rp 1300, ITIC Rp 2200, APLN di harga Rp 200, TOWR di harga Rp 800, dan LSIP di harga Rp 1450.

Baca Juga: IHSG jatuh 5,93% di bulan November 2019, ini 10 saham yang jadi penopang

Sekadar informasi, Pefindo25 merupakan indeks saham emiten yang nilai asetnya tidak melebihi Rp 10 triliun serta memiliki return on asset (ROA) dan return on investment (ROI) yang baik.




TERBARU

×