kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Analis Proyeksi Rupiah Melemah ke Rp 16.000 Per Dolar AS di Akhir Tahun


Jumat, 29 Juli 2022 / 06:05 WIB


Reporter: Aris Nurjani | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan inflasi yang dirasakan Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara utama lainnya membuat sejumlah bank sentral memilih mengerek suku bunga. Akibatnya, kekhawatiran terhadap terganggunya pertumbuhan ekonomi global membuat investasi pada instrumen lindung nilai (safe haven) meningkat.

Tak ayal, posisi dolar AS sebagai safe haven makin kuat. Ini pun membuat nilai tukar rupiah semakin tertekan walau secara fundamental ekonomi dalam negeri positif.

Analis DCFX Futures Lukman Leong pun memprediksi rupiah dapat berada di kisaran Rp 15.800 - Rp 16.000 per dolar AS di akhir tahun ini. Namun, dengan catatan, Federal Reserve (The Fed) mengerek suku bunga acuan menjadi 3,5% di akhir 2022 nanti.

Dalam jangka pendek, dia menegaskan, BI masih cukup kuat dan aktif untuk mempertahankan rupiah di kisaran Rp 15.000, dengan potensi maksimal menuju Rp 15.250 per dolar AS.

Baca Juga: Simak Prediksi Kurs Rupiah Untuk Jumat (29/7)

Koreksi rupiah terjadi karena indeks dolar AS yang masih perkasa. Walau sempat melemah setelah The Fed kerek suku bunga pada Rabu (27/7), dolar AS kembali bertenaga dan diincar oleh para investor.

"Dolar masih akan menguat terhadap rupiah hingga akhir tahun. Dan imbal hasil obligasi AS masih akan terus meningkat dan nilai obligasinya pun turun merespon Fed Fund Rate," jelas Lukman kepada Kontan.co.id, Kamis (28/7).

Menurut Lukman, hingga saat ini belum ada mata uang yang lebih kuat dan menarik dari dolar AS. Yen Jepang, yang juga dianggap sebagai aset safe haven seperti dolar AS, masih dianggap kurang menarik karena sangat bergantung pada Bank of Japan (BoJ) untuk melakukan intervensi. Terlebih, belakangan yen cenderung melemah terhadap the greenback.

Walau posisi dolar AS perkasa, namun kombinasi sentimen dari dalam negeri dan luar negeri bisa menjadi penopang pergerakan rupiah. Seperti, surplus neraca perdagangan dan harga batubara yang tetap tinggi.

"Kenaikan suku bunga hanya untuk kebutuhan meredam inflasi, apabila inflasi berhasil ditekan tanpa terlalu banyak menekan pertumbuhan ekonomi maka hal ini akan bagus untuk rupiah dan tentu sebaliknya," ujarnya.

Baca Juga: Perkasa, Rupiah Jisdor Menguat ke Rp 14.958 Per Dolar AS Pada Kamis (28/7)

Untuk saat ini, Lukman masih memprediksi indeks dolar AS akan bergerak menuju 110, apabila inflasi AS bisa turun.  "Skenario terburuk indeks dolar AS akan di kisaran 100-101, apabila tekanan inflasi di dolar AS sudah mereda, namun ekonomi juga masih tertekan," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×