kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Analis ini prediksi IHSG bakal melemah pekan depan, berikut alasannya


Minggu, 20 Oktober 2019 / 13:05 WIB
Analis ini prediksi IHSG bakal melemah pekan depan, berikut alasannya
ILUSTRASI. Sejumlah karyawan mengamati layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia.

Reporter: Benedicta Prima | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski pekan lalu ditutup menguat, Direktur Utama Investa Saran Mandiri Hans Kwee memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal melemah pada pekan depan.

Menurut Hans, pekan depan IHSG dibayangi oleh sentimen rapat dewan gubernur Bank Indonesia yang menentukan kebijakan moneter ke depan. 

Hans Kwee memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam RDG pekan depan. Alasannya, jarak antara rapat BI dengan The Fed masih terpaut satu pekan. 

Karenanya, hal ini membuat IHSG berpeluang konsolidasi melemah dalam sepekan ke depan. Hans memperkirakan IHSG pekan depan akan bergerak di kisaran support di level 6.143 - 6.099 dan resistance di level 6.201 - 6.318.

Baca Juga: Review IHSG: Dipengaruhi Sentimen Politik

Meskipun Hans melihat, data di Amerika Serikat (AS) membuat probabilitas pemotongan suku bunga oleh The Fed naik menjadi 90,9%. Dia memprediksi The Fed akan menurunkan suku bunga ke level 1,50%-1,75%.

"Ini menjadi sentimen positif di pasar," imbuh Hans, Minggu (20/10).

Beberapa data AS yang keluar pekan lalu di bawah harapan pasar. Dia menjelaskan data konstruksi rumah baru di AS pada September 2019 turun 9% dari bulan sebelumnya. Produksi industri turun 0,4% di bulan September, penurunan satu bulan terbesar sejak April. Penggunaan kapasitas industri merosot ke 77,5 pada September dari 77,9 di Agustus.

Data penjualan ritel juga mengalami penurunan untuk pertama kali dalam tujuh bulan terakhir. Pada September 2019 data penjualan ritel AS terkontraksi 0,3%. Lebih rendah dari yang diasumsikan ekonom sebelumnya sebesar +0,3%.

Selain itu, musim laporan keuangan perusahaan kuartal ketiga AS dimulai dengan awal yang baik. Sebanyak 83% perusahaan di dalam indeks S&P 500 yang telah melaporkan berhasil melampaui ekspektasi analis.

"IMF mengatakan bahwa pasar saham AS dinilai terlalu tinggi karena kepercayaan pada penyelamatan Federal Reserve," jelas dia.

Baca Juga: IHSG menguat 0,18% ke 6.191 di akhir perdagangan pekan ini

Lebih lanjut, pasar masih akan mencermati kesepakatan perang dagang antara AS dan China. Minggu lalu pasar diwarnai harapan yang tidak pasti terkait kesepakatan perang dagang. Pada pertengahan pekan, pasar sempat optimistis setelah Presiden Donald Trump mengatakan fase pertama perjanjian perdagangan akan disusun dalam tiga pekan ke depan. AS akan menunda kenaikan tarif impor yang semula akan dimulai pekan depan. Sedangkan China direncanakan akan membeli produk pertanian AS senilai US$ 40 miliar-US$ 50 miliar produk pertanian AS.

Pasar menjadi khawatir karena Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan kenaikan tarif Desember terhadap produk China akan dilakukan jika kesepakatan tidak tercapai. Sementara itu China masih menginginkan adanya pembicaraan lanjutan, sebelum Presiden Xi Jinping menandatangani fase pertama kesepakatan. China ingin AS membatalkan kenaikan tarif yang direncanakan untuk Desember.

"Perang dagang China dan AS telah membebani perekonomian China,"jelas Hans.

Data ekonomi China yang keluar pekan lalu juga tidak terlalu baik. GDP China hanya tumbuh 6% yoy, lebih rendah dari perkiraan sebesar 6,1%. China diperkirakan akan segera mempercepat stimulus dalam satu hingga dua kuartal ke depan untuk memenuhi target pertumbuhan ekonomi antara 5,5% dan 6% pada tahun selanjutnya. Hans menilai stimulus dari China akan menjadi berita yang positif bagi pasar.

"Masalah Brexit juga masih akan menjadi perhatian pasar," tandas Hans.



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×