Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Hendra Gunawan
JAKARTA. PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) bakal membangun pabrik garam farmasi tahap II dan pabrik bahan baku yang memproduksi active pharmaceutical ingredient (API) tahun depan.
Pabrik garam farmasi tersebut akan memiliki kapasitas 4.000 ton per tahun. Sementara, pabrik API nanti difungsikan untuk memproduksi enam bahan baku obat dan delapan high functional chemicals. Nilai investasinya sekitar Rp 550 miliar.
Michael Wilson Setjoadi, analis Bahana Securities menjelaskan kepada KONTAN, untuk bahan baku obat memang bisa dibilang lebih murah impor dibanding membangun pabrik di dalam negeri.
Tapi kalau garam farmasi, harganya 30% lebih murah dibanding impor," ujar Michael, (17/11).
Dia menambahkan, kebutuhan garam farmasi secara nasional sekitar 6.000 ton per tahun. Nah, dengan beroperasinya pabrik itu nanti, KAEF bisa memenuhi jumlah permintaan tersebut. Tapi nanti setelah pabriknya beroperasi. Michael bilang, butuh waktu sekitar 18 bulan atau 24 bulan hingga pabrik tersebut bisa beroperasi.
Ini tentunya menjadi hal positif bagi KAEF. Tapi, KAEF juga menghadapi satu resiko, bahkan bisa menjadi bumerang bagi KAEF sendiri. Belakangan ini, kinerja KAEF terbilang akseleratif, apalagi setelah BPJS diberlakukan.
Dengan adanya BPJS, maka penjualan obat KAEF terdongkrak. Pada saat yang bersamaan, dari 200 gerai yang dimiliki KAEF, 100 diantaranya telah diubah konsepnya menjadi seperti Puskesmas. Tentunya, klinik tersebut juga melayani pasien BPJS sehingga penjualan obat generik KAEF kembali terangkat. Rencananya, seluruh gerai tersebut juga akan disulap menggunakan konsep serupa.
Masalahnya, program BPJS sendiri juga terus mengalami defisit. Iuran atau premi yang selama ini berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 60.000 ternyata tidak menutup defisit yang dialami. tahun lalu, defisit BPJS sebesar Rp 1,5 triliun.
"Preminya mungkin bisa dinaikkan sekitar 5%. Tapi, kenaikan 5% baru menutup Rp 1,5 triliun tadi. Padahal, jika kondisi ini terus terjadi, defisit BPJS bisa mencapai Rp 170 triliun pada 2019," jelas Michael.
Jika kondisi ini terus terjadi, pilihannya hanya dua, premi dinaikkan atau subsidi dari pemerintah terus digelontorkan. Dengan rencana ekspansi perubahan konsep klinik KAEF pun juga sebenarnya berkontribusi terhadap beban BPJS tersebut. Pada akhirnya nanti, skenario terburuk bisa saja terjadi sehingga demmand BPJS turun, otomatis penjualan obat generik KAEF loyo.
"Oleh sebab itu, kami merevisi rekomendasi KAEF dari buy menjadi hold, target harganya tetap Rp 1.060 per saham," pungkas Michael.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













