| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.373
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS609.032 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Tiga calon indeks baru BEI, menarikkah bagi pasar reksadana?

Selasa, 10 April 2018 / 15:23 WIB

Tiga calon indeks baru BEI, menarikkah bagi pasar reksadana?
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia
Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mempersiapkan tiga indeks saham baru yang direncanakan meluncur di bulan ini. Ketiga indeks tersebut adalah indeks Badan Usaha Milik Negara (BUMN), indeks dividen dan indeks syariah.

Indeks saham BUMN nantinya akan diisi 20 saham baik dari perusahaan BUMN atau anak usaha BUMN. Sementara, saham yang layak masuk dalam 30 emiten daftar indeks dividen adalah saham yang mampu memenuhi kriteria dividend payout ratio, frekuensi pembagian dividen dan tingkat likuiditas saham yang dipersayaratkan BEI.

Terakhir, bursa juga berencana untuk menambah indeks syariah baru. Nantinya, selain Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), akan ada satu indeks syariah lagi yang berisi 70 saham dari perluasan dari indeks JII.

Senior Research Analyst Infovesta Utama Praska Putrantyo mengatakan, penambahan indeks saham acuan bermanfaat untuk menambah sumber referensi para manajer investasi dalam membentuk portofolio baru untuk reksadana baru.

Menurutnya, indeks acuan tersebut bisa mengembangkan industri reksadana ETF atau indeks. "Jadi menarik bila indeks acuan tersebut merujuk pada sektor tertentu sehingga dari jumlah emiten yang masuk juga tidak terlalu banyak seperti indeks LQ45," kata Praska, Senin (9/4).

Praska mengharapkan indeks saham acuan baru tersebut bisa lebih atraktif dibanding dari indeks saham yang selama ini ada. "Indeks acuan yang atraktif tidak beririsan isi sahamnya bisa jadi acuan pengelola aset untuk jadi acuan baru dalam pengelolaan portofolionya," kata Praska.

Dari indeks saham acuan baru, indeks saham BUMN dan dividen Praska lihat lebih menarik untuk dijadikan portofolio dalam reksadana tematik. Kinerja reksadana tematik sangat tergantung pada sektor saham yang dijadikan acuan dan tergantung dari siklus industri terkait.

"Jangka panjang kinerja reksadana tematik berpotensi berkinerja maksimal sesuai dengan sektor acuannya dan investor harus sadar masa tren bullish tiap sektor berbeda-beda," kata Praska.

Oleh karena itu, diversifikasi portofolio investasi harus dilakukan dan dengan adanya indeka saham acuan baru bisa menambah alternatif diversifikasi investor.


Reporter: Danielisa Putriadita
Editor: Sanny Cicilia

MANAJER INVESTASI

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0403 || diagnostic_web = 0.2347

Close [X]
×