kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.912
  • SUN102,00 -0,22%
  • EMAS620.130 0,16%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Sektor perkebunan masih hadapi sejumlah tantangan di 2018

Selasa, 13 Februari 2018 / 22:15 WIB

Sektor perkebunan masih hadapi sejumlah tantangan di 2018
ILUSTRASI. BUAH KELAPA SAWIT

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham sektor perkebunan pada tahun lalu menjadi sektor pemberat IHSG. Kinerjanya paling buncit di Bursa Efek Indonesia. Sejak awal 2018 hingga saat ini, saham perkebunan mencatatkan pertumbuhan tipis 0,93%, sementara indeks bertumbuh 3,5%.

Yosua Zisokhi, Senior Analyst Henan Putihrai Sekuritas menyatakan, sektor ini masih menghadapi tantangan dengan rendahnya penyerapan CPO di kawasan Eropa dan Amerika. Selain itu, adanya subtitusi minyak kedelai juga membuat sektor ini melemah. Kedua faktor tersebut disertai naiknya suplai menyebabkan adanya tekanan pada harga jual CPO.

Disamping itu, menguatnya dollar AS juga memicu harga CPO yang diperdagangkan dalam mata uang Ringgit Malaysia terlihat melemah. “Kalau dibilang oversupply saya kurang setuju, saya lebih setuju harga kembali normal,” kata Yosua, Selasa (13/2).

Pasalnya, pada tahun lalu, rata-rata harga berkisar di RM 2.600-RM 2.700 terkena imbas suplai yang tipis, karena adanya efek El-nino di awal tahun. Bahkan, harga CPO tahun 2016 hanya di kisaran RM 2.600-an, tahun 2015 kurang lebih RM 2.300-an dan tahun 2014 hanya di level RM 2.400-an.

"Nah setelah hilangnya efek El-nino dan permintaan tumbuh pelan, maka harga CPO di kisaran sekarang RM 2.400-RM 2500 masih wajar,” ungkapnya.

Yosua masih memandang baik sektor perkebunan.  Menurutnya, permintaan masih akan tetap tinggi dari China, India dan dalam negeri terutama dari sektor biofuel. Biofuel seperti biodiesel akan cukup diminati seiring dengan kenaikan yang terjadi pada harga minyak mentah dunia. Terlebih adanya CPO fund yang diusung pemerintah juga membuat penyerapan biofuel seharusnya cukup baik.

Dari sisi produksi, dia menilai tidak ada problem cuaca ekstrim seperti La-nina. Namun masih diberlakukannya moratorium pembukaan lahan, membuat dalam jangka panjang, produksi CPO dari masing-masing emiten akan menemui titik stagnansi.

Saat ini, sektor CPO diuntungan dengan kenaikan harga CPO yang baru terjadi pada pekan ini dan harga CPO sekarang sudah kembali memasuki level RM 2.500-an. Berbeda dengan awal bulan Februari yang berada di bawah RM 2.500 per ton. Namun perlu ditekankan bahwa harga saham tetap berfluktuatif dengan banyaknya faktor yang mempengaruhi.

“Kami masih prefer terhadap AALI dan LSIP, karena keduanya merupakan emiten yang memiliki luas lahan paling banyak dibandingkan emiten lain. Buy saham AALI dengan target harga Rp 18.050 dan LSIP dengan target harga Rp 1.710,” katanya.

Pada perdagangan Selasa (13/2), saham AALI ditutup pada level Rp 13.400, dan LSIP di Rp 1.355.


Reporter: Dede Suprayitno
Editor: Dupla Kartini

REKOMENDASI SAHAM

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel Santika Premiere Slipi Jakarta
14 May 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy
Close [X]
×