: WIB    —   
indikator  I  

Nikel sentuh level tertinggi dua bulan

Nikel sentuh level tertinggi dua bulan

JAKARTA. Harga nikel melesat setelah negara Filipina kembali mengeluarkan kebijakan yang berpotensi menekan pasokan. Pergerakan nikel dalam tren positif baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Mengutip Bloomberg, Kamis (16/2) harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange menguat 1,3% ke level US$ 11.070 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak 12 Desember 2016. Dalam sepekan terakhir, nikel melambung hingga 7,7%.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim mengatakan, ancaman berkurangnya produksi nikel menjadi sentimen utama yang mendorong kenaikan harga.

Pekan ini pemerintah Filipina memerintahkan pembatalan 75 produksi mineral termasuk bijih nikel. Pembatalan dilakukan setelah pemerintah menutup 28 dari total 41 tambang di negara tersebut.

Di sisi lain, Indonesia telah melonggarkan peraturan ekspor bijih nikel. Tetapi dampaknya belum signifikan untuk menutup kekurangan pasokan Filipina.

Berkurangnya pasokan bijih nikel membuat produksi nikel China turut tergerus. Hal ini juga seiring dengan upaya pemerintah China membenahi sektor komoditas, termasuk melakukan pengawasan pada perdagangan bursa komoditas. "Pemerintah China sampai saat ini terus mengurangi produksi nikel hingga hampir 50%," kata Ibrahim.

China ingin memastikan bahwa kenaikan harga di bursa bukan karena spekulasi tetapi murni lantaran adanya permasalahan pasokan. Jika upaya penutupan tambang Filipina terus berlangsung, maka Ibrahim memperkirakan harga nikel bisa menyentuh US$ 13.000 per metrik ton hingga akhir kuartal pertama.

Dukungan kenaikan harga tentu tidak hanya datang dari sisi pasokan. Angka permintaan kemungkinan terus bertambah seiring dengan upaya berbagai negara memperbaiki kondisi ekonomi.


Reporter Wuwun Nafsiah
Editor Yudho Winarto

NIKEL

Feedback   ↑ x
Close [X]