: WIB    --   
indikator  I  

Mencari tumpukan saham murah

 Mencari tumpukan saham murah

JAKARTA. Naluri alamiah seorang investor saham adalah, berupaya menempatkan dananya di saham yang memiliki valuasi rendah dan berkinerja bagus. Strategi tersebut tentunya demi memaksimalkan keuntungan.

Di saat pasar saham domestik bergerak dalam tren bullish, memang gampang-gampang susah membidik saham yang murah, tapi tidak murahan. Sebab, banyak saham yang harganya sudah meningkat signifikan.

Jumat (16/6) pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertengger di posisi 5.723,64. Artinya, indeks sudah naik 8,06% sejak awal tahun ini. Bahkan dua hari sebelumnya, IHSG menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni 5.792,90.

Melihat kondisi tersebut, tentu tidak sedikit saham yang harganya sudah tinggi. Jika ingin masuk dan belanja saham, maka para investor perlu mencermati valuasi sahamnya, misalnya dengan memperhatikan price earning ratio (PER) dan price book value (PBV).

Analis OSO Sekuritas Riska Afriani berpendapat, cara yang paling mudah untuk menentukan apakah harga suatu saham murah atau mahal adalah dengan melihat PER dan PBV. Semisal, apakah PBV saham yang dimaksud sudah di bawah 1 kali atau tidak. "Juga harus membandingkan dengan sub sektor yang sama dengan saham tersebut," ungkap dia kepada KONTAN, kemarin.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada menyebut, biasanya untuk menentukan murah atau tidaknya saham, perlu dibandingkan antar-emiten per sektor. Misalnya saham agribisnis, di mana PER ANJT setara 4,16 kali; SGRO 6,01 kali; SIMP 6,34 kali; LSIP 6,40 kali. "Apabila asumsinya rata-rata emiten yang sekelas PER-nya sekitar 6 kali, maka harga ANJT bisa dikatakan masih undervalued," kata dia.

Menurut Riska, PBV di bawah 1 kali mengindikasikan harga saham masih murah. Sebab, perhitungan book value dimaksudkan untuk menilai kekayaan perusahaan setelah utang dilunasi. Dengan begitu, PBV di bawah 1 kali berarti kelipatan harganya belum terlalu tinggi terhadap nilai suatu perusahaan.

Namun Riska mengingatkan, tidak serta merta setiap saham yang memiliki PBV di bawah 1 kali artinya murah. Investor juga harus memperhatikan kinerja emiten tersebut, apakah bagus atau tidak. Investor bisa melihat kinerja keuangan emiten selama lima tahun ke belakang.

Saat ini di BEI tercatat ada 189 perusahaan yang memiliki PBV di bawah 1 kali. Tentu dari jumlah tersebut, tidak semua emiten memiliki kinerja keuangan yang bagus. "Dari 189 perusahaan tersebut ada yang memang dikarenakan rugi, atau saham tersebut tidak likuid," kata Riska.


Reporter Hasyim Ashari
Editor Yudho Winarto

REKOMENDASI SAHAM

Feedback   ↑ x
Close [X]