: WIB    —   
indikator  I  

Lima topik hangat yang harus disimak pagi ini

Lima topik hangat yang harus disimak pagi ini

JAKARTA. Berikut sejumlah isu penting yang layak disimak hari ini:

- Pasar obligasi makin ramai pada tahun depan

Demi memutar roda bisnis, perusahaan mengandalkan pasar modal sebagai sumber pendanaan. Salah satu pilihan pendanaan di pasar modal adalah penerbitan obligasi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, nilai emisi obligasi per pekan ketiga November tahun ini cukup besar, yakni Rp 51,89 triliun. Perinciannya, emisi obligasi Rp 8,25 triliun, obligasi berkelanjutan Rp 42,01 triliun dan obligasi syariah (sukuk) korporasi Rp 1,63 triliun. Pencatatan total obligasi Rp 51,89 triliun tersebut berasal dari 48 perusahaan.

Tahun depan, penerbitan surat utang korporasi diprediksi masih akan ramai. Salah satu indikasinya, nilai obligasi jatuh tempo di tahun 2014 cukup besar, yakni Rp 37,64 triliun. Kemungkinan besar, sebagian perusahaan akan merilis obligasi untuk melunasi obligasi jatuh tempo di tahun depan.

- Peminat lelang SUN terakhir membeludak

Pemerintah kebanjiran permintaan pada lelang terakhir di tahun 2013 yang digelar hari ini. Total penawaran yang masuk mencapai Rp 10,06 triliun. Adapun, nilai yang dimenangkan hanya Rp 4 triliun.

Ada empat seri surat utang yang ditawarkan. Seri SPN03140404 yang merupakan jenis surat utang baru akan jatuh tempo 4 Maret 2014. Lalu ada SPN12141204 yang juga merupakan surat utang anyar. Tenor waktu surat perbendaharaan negara tersebut adalah satu tahun.

Kemudian ada seri FR0069 dengan tingkat bunga tetap sebesar 7,87% dan jatuh tempo 15 April 2019. Seri FR0070 pun menjadi pilihan pemerintah dengan tawaran kupon 8,37%. Obligasi ini jatuh tempo pada 15 Maret 2024.

Terakhir, seri FR0068 dengan tawaran kupon 8,37% dan jatuh tempo 15 Maret 2024. Jumlah penawaran yang masuk pada obligasi seri SPN03140404 dan SPN12141204 masing-masing sebanyak Rp 701 miliar dan Rp 766 miliar.

- Posisi rupiah

Rupiah kembali melemah. Di pasar spot, Selasa (3/12), rupiah ditutup melemah 1% ke level 11.888. Di kurs tengah Bank Indonesia, rupiah justru menguat 0,97% menjadi 11.830 dibanding hari sebelumnya.

Reny Eka Putri, analis pasar uang Bank Mandiri mengatakan, rupiah mendapat sentimen negatif dari tingkat kebutuhan dollar Amerika Serikat (AS) untuk pembiayaan impor. Rilis data sektor perumahan dan pengangguran AS yang cenderung membaik turut menekan rupiah. "Beruntung, pelemahan teredam oleh intervensi BI dan membaiknya data perdagangan Indonesia," katanya.

- Posisi IHSG

Setelah amblas di sesi I, pada perdagangan sesi II Selasa (3/12), Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) kembali turun 33,21 poin (0,77%) ke level 4.288,76. Penurunan IHSG ini menjadi penurunan indeks paling parah di pasar modal Asia Pasifik setelah KOSPI di Korea yang turun 1,05% menjadi 2009,36. Sementara untuk jumlah transaksi hari ini ada sebanyak 4,2 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 3,89 triliun.

- Posisi Wall Street

Mayoritas saham yang diperdagangkan di bursa AS turun untuk hari ketiga. Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, pada pukul 16.00 waktu New York, indeks Standard & Poor's 500 turun 0,3% menjadi 1.795,15. Sementara, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,6% menjadi 15.914,62. Ini merupakan level penutupan pertama Dow Jones di bawah 16.000 sejak 20 November lalu.

Transaksi tadi malam melibatkan 6,3 miliar saham. Angka tersebut 3,8% di bawah volume rata-rata transaksi tiga bulanan.


Reporter Barratut Taqiyyah
Editor Barratut Taqiyyah

REKOMENDASI

Feedback   ↑ x