: WIB    —   
indikator  I  

Harga SUN Kamis terkoreksi, volume masih tinggi

Harga SUN Kamis terkoreksi, volume masih tinggi

JAKARTA. Harga surat utang negara (SUN) pada penutupan perdagangan Kamis (23/3) tercatat mengalami penurunan. Berdasarkan situs Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), indeks INDOBeX Government Clean Price turun sebesar 0,01% ke level 114,33 dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.

Analis Fixed Income MNC Securities I Made Adi Saputra menilai, pergerakan harga SUN di pasar sekunder terbatas kemarin.

Terbatasnya perubahan harga SUN dipengaruhi oleh minimnya katalis dari dalam dan luar negeri.

Pelaku pasar global masih mencermati perkembangan kebijakan fiskal yang akan diambil oleh pemerintah Amerika Serikat. "Terutama kebijakan pajak dan pembangunan infrastruktur yang telah mempengaruhi perkembangan pasar keuangan sejak kemenangan Presiden Donald Trump pada pemilihan November 2016 lalu," kata Made.

Sementara itu, dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati pelaksanaan lelang pembelian kembali SUN dengan cara penukaran (Debt Switch) yang dilakukan oleh pemerintah yang merupakan bagian dari strategi pengelolaan portofolio utang.

Dari hasil lelang tersebut, pemerintah melakukan penukaran SUN senilai Rp 1,25 triliun dari total penawaran yang masuk senilai Rp 1,97 triliun.

Terbatasnya pergerakan harga SUN pada perdagangan kemarin juga berdampak terhadap minimnya perubahan imbal hasil dari SUN seri acuan.

Misalnya imbal hasil dari Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun dan 20 tahun ditutup dengan penurunan masing - masing sebesar 1 bps di level 6,861% dan 7,757%. Adapun untuk tenor 10 tahun mengalami penurunan sebesar 2 bps pada level 7,096% dan untuk tenor 15 tahun relatif tidak banyak mengalami perubahan di level 7,494%.

Sedangkan dari perdagangan SUN dengan denominasi mata uang dollar Amerika, tingkat imbal hasilnya ditutup dengan arah perubahan yang bervariasi dengan perubahan yang relatif terbatas.

Perubahan harga dari Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika cenderung mendatar (sideways) sehingga berpengaruh terhadap terbatasnya perubahan tingkat imbal hasilnya. Imbal hasil dari INDO-20 ditutup pada level 2,580% dan INDO-27 pada level 3,913% setelah mengalami penurunan imbal hasil yang kurang dari 1 bps.

Adapun imbal hasil dari INDO-47 ditutup pada level 4,828% dengan tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya.

Volume tetap tinggi

Volume transaksi perdagangan SUN kemarin juga turun. Namun, Made berpendapat, volume perdagangan Kamis masih cukup besar.

Perdagangan SUN kemarin mengecil senilai Rp 10,45 triliun dari 41 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp 4,23 triliun.

Obligasi Negara seri FR0059 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp 2,36 triliun dari 79 kali transaksi di harga rata - rata 99,26% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR061 senilai Rp 1,22 triliun dari 41 kali transaksi di harga rata - rata 100,49. Kedua seri Obligasi Negara tersebut juga menjadi Surat Utang Negara yang paling sering diperdagangkan yaitu 79 kali dan 41 kali transaksi.

Sedangkan dari perdagangan obligasi korporasi, terjadi peningkatan volume perdagangan dari pelaporan sebelumnya, yaitu senilai Rp 817,9 miliar dari 48 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Analis Fixed Income MNC Securities I Made Adi Saputra berpendapat bahwa volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin masih cukup besar meskipun terlihat mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan yang dilaporkan Rabu. Adapun mengecil senilai Rp 10,45 triliun dari 41 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp 4,23 triliun.

Obligasi Negara seri FR0059 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp 2,36 triliun dari 79 kali transaksi di harga rata - rata 99,26% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR061 senilai Rp 1,22 triliun dari 41 kali transaksi di harga rata - rata 100,49. Kedua seri Obligasi Negara tersebut juga menjadi Surat Utang Negara yang paling sering diperdagangkan yaitu 79 kali dan 41 kali transaksi.

Sedangkan dari perdagangan obligasi korporasi, terjadi peningkatan volume perdagangan dari pelaporan sebelumnya, yaitu senilai Rp 817,9 miliar dari 48 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan I PNM Tahap II Tahun 2016 Seri A (PNMP01ACN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp 112 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata - rata 100,38% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan I Bank BRI Tahap II Tahun 2016 Seri B (BBRI01BCN2) senilai Rp 104 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 102,48%.

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup menguat terbatas di level 13.325 per dollar Amerika, mengalami penguatan terbatas sebesar 4,00 pts (0,03%) dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya.

Bergerak pada kisaran 13.320 hingga 13.335 per dollar Amerika, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika terjadi di tengah bervariasinya arah pergerakan nilai tukar mata uang regional terhadap dollar Amerika. Mata uang Yen Jepang (JPY) memimpin penguatan mata uang regional yang diikuti oleh mata uang Won Korea Selatan (KRW). Adapun mata uang Dollar Singapura (SGD) memimpin pelemahan mata uang regional yang diikuti oleh Yuan China (CNY).


Volume Perdagangan Kamis Capai Rp 10,45 Triliun

JAKARTA. Harga surat utang negara (SUN) pada penutupan perdagangan Kamis (23/3) tercatat mengalami penurunan. Berdasarkan situs Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), indeks INDOBeX Government Clean Price turun sebesar 0,01% ke level 114,33 dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.

Analis Fixed Income MNC Securities I Made Adi Saputra berpendapat bahwa Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin kembali ditutup dengan arah perubahan yang bervariasi di tengah terbatasnya pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder.

Terbatasnya perubahan harga SUN pada perdagangan Kamis juga turut dipengaruhi oleh minimnya katalis dari dalam dan luar negeri yang mendorong investor untuk melakukan transaksi di pasar sekunder. Pelaku pasar global masih mencermati perkembangan kebijakan fiskal yang akan diambil oleh pemerintah Amerika Serikat.

"Terutama kebijakan pajak dan pembangunan infrastruktur yang telah mempengaruhi perkembangan pasar keuangan sejak kemenangan Presiden Donald Trump pada pemilihan November 2016 lalu," kata Made.

Sementara itu dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati pelaksanaan lelang pembelian kembali Surat Utang Negara dengan cara penukaran (Debt Switch) yang dilakukan oleh pemerintah yang merupakan bagian dari strategi pengelolaan portofolio utang.

Dari hasil lelang tersebut, pemerintah melakukan penukaran Surat Utang Negara senilai Rp 1,25 triliun dari total penawaran yang masuk senilai Rp 1,97 triliun.

Terbatasnya pergerakan harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin juga berdampak terhadap minimnya perubahan imbal hasil dari Surat Utang Negara seri acuan.

Misalnya imbal hasil dari Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun dan 20 tahun ditutup dengan penurunan msing - masing sebesar 1 bps di level 6,861% dan 7,757%. Adapun untuk tenor 10 tahun mengalami penurunan sebesar 2 bps pada level 7,096% dan untuk tenor 15 tahun relatif tidak banyak mengalami perubahan di level 7,494%.

Sedangkan dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika, tingkat imbal hasilnya ditutup dengan arah perubahan yang bervariasi dengan perubahan yang relatif terbatas.

Perubahan harga dari Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika cenderung mendatar (sideways) sehingga berpengaruh terhadap terbatasnya perubahan tingkat imbal hasilnya. Imbal hasil dari INDO-20 ditutup pada level 2,580% dan INDO-27 pada level 3,913% setelah mengalami penurunan imbal hasil yang kurang dari 1 bps.

Adapun imbal hasil dari INDO-47 ditutup pada level 4,828% dengan tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya.

Minimnya Kalatalis Membuat Harga SUN Terbatas


Reporter Umi Kulsum

SURAT UTANG NEGARA (SUN)

Feedback   ↑ x
Close [X]