: WIB    --   
indikator  I  

Alasan 2 analis ini rekomendasikan saham Tamarin

Alasan 2 analis ini rekomendasikan saham Tamarin

JAKARTA. PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk berencana melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) pada tanggal 3 - 5 Mei 2017, setelah usai melakukan penawaran awal 19 April lalu. Para analis menilai, prospek industri pelayaran ke depan akan bergantung pada industri minyak dan gas.

Kardja Rahardjo, Direktur Utama PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk bilang, dana hasil IPO tersebut akan digunakan seluruhnya sebagai modal kerja untuk kegiatan usaha sehari-hari, antara lain untuk pembiayaan cadangan peralatan dan perlengkapan kapal.

"Modal kerja tahun ini yang kita beli spare part, anggarannya paling besar karena import.Kita juga ingin meningkatkan safety karena kalau di industri migas, safety itu paling utama," ujarnya di Jakarta, Rabu (12/4).

Rencananya, perseroan yang berdiri pada tahun 1998 ini bakal melepas hingga 1 miliar saham ke publik dengan rentang harga Rp 105 - Rp 170 per saham. Adapun perusahaan telah menunjuk PT Investindo Nusantara Sekuritas selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek.

Melalui rencana IPO tersebut, perseroan yang struktur permodalannya dipegang oleh dua perusahaan ini membidik dana segar berkisar Rp 105 miliar hingga Rp 170 miliar.

Bima Setiaji, Analis NH Korindo Sekuritas menilai, aksi perseroan yang memutuskan untuk menggelar IPO bakal mendongkrak kinerja perseroan ke depan. Menurutnya, prospek PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk akan bergantung pada harga minyak dan gas (migas).

"Ketika harga minyak sudah membaik dan bertahan di atas US$ 50, kinerja emiten pelayaran tahun ini akan mengarah pada perbaikan," katanya kepada KONTAN, Rabu (19/4).

Harga minyak Jumat (21/4) pukul 21:05 WIB di pasar pengiriman Juni 2017 sebesar US$ 50,46 per barel. Harga minyak tergerus 10,67% sepanjang tahun ini, menunjukkan OPEC belum berhasil meningkatkan harga minyak sementara AS tetap menggenjot produksi minyaknya. 

Adapun dari sisi keuangan, perusahaan masih rugi pada tahun lalu. Namun kata Bima, perseroan sudah gencar melakukan restrukturisasi utang sehingga debt to equity ratio (DER) perseroan berkurang dari 2 menjadi tinggal 1,1 saat ini.

"Penurunan utang tersebut akan berdampak pada penurunan beban bunga sehingga margin dan laba perusahaan ke depan bisa meningkat," katanya.

Reza Priyambada menambahkan, peningkatan pendapatan bagi bisnis perkapalan tak hanya bergantung pada industri migas. Banyaknya kontrak yang diperoleh, kata dia, juga bakal menentukan kinerja perseroan ke depan. "Kalau perusahaan ini bergerak di bidang logistik migas, kita lihat siapa saja pesaingnya, bagaimana positioningnya. Itu yang akan dipertimbangkan investor," ujarnya kepada KONTAN, Rabu (19/4).

Bima memprediksi, pendapatan perusahaan ke depan bakal meningkat. Apalagi, price to book value (PBV) perseroan masih di bawah 1 atau sesuai dengan rata-rata industri emiten perkapalan. Namun, sentimen yang bakal memengaruhi bisnis pelayaran ke depan, tak lepas dari kondisi industri migas.

Bima bilang, harga minyak bumi tipe Brent saat ini masih ada di sekitar level US$ 56. Level tersebut sama seperti Desember 2016. "Industri pelayaran tampak sulit untuk melewati level tersebut," ujarnya.

Dia menjelaskan, meningkatnya aktifitas minyak di AS bakal menjadi katalis negatif bagi prospek harga minyak ke depan. Setidaknya, lanjut Bima, hal tersebut masih bisa diimbangi dengan rencana OPEC memperpanjang masa kesepakatan pengurangan produksi minyak antarnegara OPEC.

Dengan begitu, Bima merekomendasikan beli untuk saham IPO PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk. Setali tiga uang, Reza pun merekomendasikan beli saham tersebut. "Investor bisa memanfaatkan IPO hari pertama. Tetapi lihat dulu seberapa besar oversubscribe dan volume perdagangan hari tersebut," imbuh Reza. 


 


Reporter Klaudia Molasiarani
Editor Sanny Cicilia

INITIAL PUBLIC OFFERING (IPO)

Feedback   ↑ x