Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun masih bertahan di level tinggi, meski bank sentral Amerika Serikat (AS) menahan suku bunga acuannya.
Kondisi ini menandakan tekanan di pasar obligasi domestik belum mereda.
Belakangan yield SBN memang cenderung menanjak naik. Di awal tahun pada 2 Januari 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,04%. Kini per 30 Maret 2026, yield SBN 10 tahun berada di level 6,85% atau hampir mendekati 7%.
Di sisi lain, kondisi kenaikan yield ini juga terjadi di tengah sikap The Fed yang memutuskan untuk menahan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75% pada Maret 2026.
Baca Juga: Obligasi Raharja Energi (RATU) Senilai Rp 300 Miliar dapat Peringkat idA dari Pefindo
Sikap The Fed yang tak agresif menaikkan suku bunga seharusnya memberi ruang bagi obligasi emerging markets untuk menguat.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai tertahannya penurunan yield SBN bukan semata dipengaruhi kebijakan suku bunga The Fed, melainkan kombinasi faktor global yang masih membebani pasar.
Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak Brent mendekati US$ 120 per barel, akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama yang menahan penurunan yield domestik.
Menurutnya, situasi tersebut mendorong pelaku pasar bersikap lebih defensif dan mengurangi eksposur ke aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Alhasil, meskipun The Fed tidak menaikkan suku bunga, pasar obligasi emerging markets tidak serta-merta mendapatkan sentimen positif.
Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Siapkan Rp 587 Miliar untuk Pelunasan Obligasi Jatuh Tempo
Di sisi lain, kebijakan domestik juga turut memengaruhi. Bank Indonesia (BI) saat ini masih memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah, sehingga ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter masih terbatas. Hal ini membuat yield SBN tenor panjang tetap tinggi.
“Jadi, ini belum bisa disebut keadaan gawat, tetapi jelas sudah masuk area waspada karena pasar sedang meminta kompensasi risiko yang lebih besar untuk memegang SBN Indonesia,” ujar Josua kepada Kontan, Selasa (31/3/2026).
Lebih lanjut, Josua mengatakan bahwa apabila sentimen global mulai membaik namun yield domestik tetap tinggi, maka faktor dalam negeri menjadi penentu utama pergerakan pasar obligasi.
Ia menekankan, stabilitas rupiah menjadi faktor yang paling cepat memengaruhi pasar, terutama karena akan menentukan respons kebijakan BI.
Selama rupiah masih rentan terhadap tekanan, BI cenderung menahan pelonggaran, sehingga daya tarik SBN tenor panjang ikut tertekan.
Selain itu, persepsi terhadap ketahanan fiskal juga berperan penting. Menurutnya, perubahan pandangan lembaga pemeringkat serta masih terbatasnya aliran dana asing turut menahan penguatan pasar obligasi domestik.
Baca Juga: Obligasi Lontar Papyrus (LPPI) Senilai Rp 2,72 Triliun Jatuh Tempo pada Juli 2026
Tercatat hingga 27 Maret 2026, aliran dana asing ke obligasi Indonesia secara kuartalan masih mencatatkan arus keluar sekitar US$ 1,76 miliar.
Dari sisi premi risiko, selisih yield SBN Indonesia tenor 10 tahun terhadap obligasi pemerintah AS masih berada di kisaran 241 basis poin per 27 Maret 2026.
Angka ini hanya sedikit menyempit dibandingkan akhir Februari, mencerminkan bahwa persepsi risiko terhadap Indonesia belum sepenuhnya mereda.
“Jadi, saya menempatkan rupiah dan kredibilitas fiskal sebagai faktor paling berpengaruh, sedangkan kenaikan premi risiko negara lebih merupakan efek lanjutan dari dua hal itu,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













