kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45697,73   -32,02   -4.39%
  • EMAS946.000 -1,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Virus corona masih jadi sentimen penurunan IHSG, saham blue chip makin menarik


Jumat, 28 Februari 2020 / 21:33 WIB
Virus corona masih jadi sentimen penurunan IHSG, saham blue chip makin menarik
ILUSTRASI. Layar pergerakan harga saham Bursa Efek Indonesia di Jakarta. IHSG telah anjlok 13,44% sejak awal tahun ke level 5.452,70.

Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus merosot sejak awal 2020. Dalam sepekan ini, IHSG turun 7,30% dari penutupan Jumat (21/2) di 5.882,25. Sementara itu, secara year to date (ytd), IHSG telah anjlok 13,44% ke level 5.452,70.

Kepala Riset MNC Sekuritas Thendra Crisnanda melihat, dalam jangka pendek, kekhawatiran investor atas meluasnya penyebaran virus corona tetap menjadi sentimen yang mendominasi pergerakan IHSG. Pengaruh merebaknya virus ini juga akan memperlambat pertumbuhan kinerja emiten pada kuartal I-2020.

Untuk saat ini, secara teknikal, MNC Sekuritas memprediksi support IHSG berada pada level 5.250. Jika bisa ditembus, maka IHSG diprediksi bisa turun lagi ke 5.100.

Baca Juga: Penghuni LQ45 mulai rilis laporan keuangan, simak rekomendasi analis

"Meskipun demikian, patut disadari secara historis, kekhawatiran atas penyebaran virus merupakan isu yang temporer. Sehingga jangka menengah dan panjang, kami menyakini peluang rebound jauh lebih besar," kata Thendra kepada Kontan.co.id, Jumat (28/2). Oleh karena itu, dia melihat, IHSG berpeluang kembali ke level 5.600-5.800 pada semester I-2020.

Bernada serupa, Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani juga memprediksi, untuk kuartal I-2020 IHSG masih akan tertekan akibat virus corona yang akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia. "Selama virus corona ini masih terus meluas dan masih terlihat outflow di pasar, IHSG masih berpotensi mencetak new low. Untuk bottom-nya, kami belum bisa prediksi di berapa," ucap Hendriko.

Baca Juga: IHSG terus merosot sejak awal tahun, berikut prosedur yang dapat dilakukan BEI

Di sisi lain, laporan keuangan emiten yang berkinerja baik pada 2019 berpotensi mengangkat harga sahamnya, Meskipun begitu, Hendriko memprediksi kenaikan tersebut juga akan terbatas.

Menurut Hendriko, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengakumulasi saham-saham dengan fundamental baik. Pasalnya, valuasi saham-saham tersebut sudah tergolong murah akibat panic selling. Dia menyarankan investor untuk memperhatikan saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI),  PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), dan PT Astra International Tbk (ASII).

Baca Juga: IHSG merosot di hari keenam, ditutup ke 5.420,70 jelang akhir pekan

Thendra juga menyarankan investor untuk mulai mengoleksi saham-saham berfundamental bagus terutama dari sektor perbankan, telekomunikasi, dan barang konsumsi. Ia merekomendasikan investor untuk memerhatikan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

Penurunan IHSG yang signifikan ini juga membuat dividend yield saham-saham blue chips di Indonesia menjadi sangat menarik. "Dividend yield-nya saat ini sekitar 4%-7% disertai dengan valuasi yang murah," ucap dia.




TERBARU

Close [X]
×