kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45704,52   6,79   0.97%
  • EMAS938.000 -0,85%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

UOB Kay Kian sebut bisnis underwriting tahun depan akan berat


Minggu, 24 November 2019 / 18:41 WIB
UOB Kay Kian sebut bisnis underwriting tahun depan akan berat
ILUSTRASI. Ilustrasi IPO atau Go Public; initial public offering. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/14/06/2016

Reporter: Kenia Intan | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. UOB Kay Hian Sekuritas tercatat sebagai penjamin emisi efek yang paling aktif menggiring perusahaan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana. Perusahaan asal Singapura itu menggiring 12 perusahaan melantai di bursa saham per Jumat (24/11).

Adapun UOB Kay Hian Sekuritas menghimpun dana sebesar Rp 2,32 trilun melalui IPO 12 perusahaan itu. Tahun ini, UOB Kay Hian Sekuritas memang tengah memfokuskan usahanya dalam bisnis underwriting

Baca Juga: Harga saham Sinergi Inti Plastindo (ESIP) melonjak 69,33% pada perdagangan perdana

Hingga akhir tahun, setidaknya masih ada enam calon perusahaan lagi yang akan  dibawa UOB Kay Hian Sekuritas melantai di bursa. Sektornya  meliputi tambang, bank, dan properti. 

Berdasar laporan keuangan, per semester III 2019 hanya pendapatan kegiatan penjaminan emisi efek yang mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 72,12% year on year (yoy), dari sebelumnya Rp 12,16 miliar menjadi Rp 20,93 miliar.

Sementara itu, pendapatan kegiatan perantara perdagangan efek menurun 27,71% yoy menjadi Rp 36,99 miliar. Pendapatan bunga bersih perusahaan juga menyusut 31,98% yoy menjadi Rp 9,59 miliar. Akibatnya, pendapatan usaha UOB Kay Hian Sekuritas terseret 12% yoy menjadi Rp 67,52 miliar dari sebelumnya Rp 51,17 miliar. 

Baca Juga: Sinergi Inti Plastindo menggelar IPO dengan harga penawaran Rp 163 per saham

Tahun depan, Head of Financial UOB Kay Hian Sekuritas Nefo Handojo berpendapat bisnis underwriting akan berat. Sebabnya, ada pengetatan aturan terhadap calon perusahaan yang akan melantai di bursa karena banyaknya kasus dari perusahaan-perusahaan yang IPO. 

Walau demikian, Nefo bilang UOB Kay Hian tetap akan melakukan menjalankan beberapa perusahaan IPO tahun depan dengan lebih hati-hati dan waspada. "Kami sudah antisipasi untuk perubahan aturan dan kita selalu jaga untuk tidak menjadi kasus di pasar modal," ujarnya ketika dihubungi Kontan.co.id, Jumat (22/11). 

Asal tahu saja, sepanjang 2019 ini sudah ada 46 emiten tercatat sebagai perusahaan terbuka, dengan dana yang sudah terhimpun sebanyak Rp 12,45 triliun. Hingga akhir tahun, BEI menargetkan masih akan 38 emiten lain yang bakal melantai di bursa. Sebanyak 34 diantaranya akan menggunakan tahun buku Juni 2019. 




TERBARU

Close [X]
×