Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi pembelian kembali saham atau buyback menjadi salah satu langkah yang ditempuh emiten untuk merespons tekanan di pasar modal. Namun, di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), efektivitas buyback dalam menopang harga saham dinilai bergantung pada likuiditas dan kondisi fundamental masing-masing perusahaan.
Pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026), IHSG anjlok 188,49 poin atau 3,64% ke level 4.996,60. Pelemahan tersebut mencerminkan tingginya tekanan jual di pasar saham Indonesia.
Berdasarkan penelusuran riset KONTAN, terdapat tujuh emiten yang telah mengumumkan rencana buyback saham di tengah kondisi pasar yang tertekan. Emiten-emiten tersebut berasal dari berbagai sektor industri.
Sejumlah perusahaan dalam kelompok usaha Prajogo Pangestu, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT), masing-masing menyiapkan dana buyback maksimal Rp 1 triliun. Sementara itu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) mengalokasikan dana maksimal Rp 500 miliar.
Baca Juga: Penjualan SBR015 Tembus Rp 12,1 Triliun, Ini Rincian Serapan Tiap Tenor
Di luar kelompok usaha tersebut, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga menyiapkan dana sebesar Rp 1 triliun untuk membeli kembali sahamnya.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengumumkan pelaksanaan buyback saham pada 19-21 Oktober 2026. Adapun PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) menyiapkan anggaran buyback sebesar Rp 100 miliar.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai aksi buyback dapat memberikan dampak positif terhadap harga saham. Namun, pengaruhnya cenderung terbatas dan bergantung pada tingkat likuiditas setiap saham.
Sebagai contoh, dana buyback BREN sebesar Rp 1 triliun setara dengan nilai transaksi harian rata-rata selama 31 hari. Dengan demikian, aksi tersebut dinilai berpotensi menyerap tekanan jual dalam jumlah yang relatif besar.
Sebaliknya, saham CUAN dan DSSA cenderung lebih likuid. Dana buyback kedua emiten tersebut hanya setara dengan sekitar 2-3 hari transaksi, sehingga dampaknya terhadap pergerakan harga saham dinilai lebih terbatas.
Meski demikian, Audi memperkirakan dana buyback hanya mengompensasi sekitar 1%-3% dari nilai pasar yang hilang sejak pengumuman sanksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut dia, penurunan harga saham lebih mencerminkan penilaian ulang risiko tata kelola daripada sekadar kekurangan pembeli.
Baca Juga: Menakar Resiliensi Pasar Saham di Tengah Derasnya Net Sell Asing
"Karena itu buyback tidak cukup memulihkan kepercayaan pasar. Selain itu, buyback juga mengurangi porsi saham publik, padahal minimnya free float dan transparansi kepemilikan justru menjadi sorotan MSCI," kata Audi kepada Kontan, Senin (19/10/2026).
Buyback Dinilai Belum Cukup Menahan Penurunan IHSG
Audi juga menilai aksi buyback saham tidak akan secara sistemik meredam koreksi IHSG. Total dana buyback emiten-emiten tersebut mencapai sekitar Rp 4,5 triliun, di luar BBCA. Nilai itu dinilai relatif kecil jika dibandingkan dengan potensi arus keluar dana asing apabila Indonesia benar-benar mengalami penurunan status dalam indeks MSCI Emerging Markets.
Menurut Audi, persoalan utama pasar modal Indonesia saat ini berkaitan dengan aspek struktural, terutama transparansi kepemilikan saham dan integritas perdagangan.
"Kami berpandangan akar masalahnya struktural, yaitu transparansi kepemilikan dan integritas perdagangan, bukan likuiditas. Buyback paling jauh hanya meredam volatilitas harian saham berkapitalisasi besar. Sehingga katalis sesungguhnya adalah langkah konkret OJK dan BEI merespons MSCI sebelum batas konsultasi April 2027," ucap Audi.
Baca Juga: Buyback Saham Jadi Katalis Positif, Ini Saran untuk Investor
Dengan kondisi tersebut, investor dinilai perlu melihat aksi buyback secara proporsional. Pembelian kembali saham dapat membantu menopang harga dalam jangka pendek, tetapi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan yang memengaruhi kepercayaan pasar.
Audi menyarankan investor tidak menjadikan pengumuman buyback sebagai satu-satunya dasar untuk membeli saham. Investor sebaiknya memprioritaskan emiten dengan fundamental kuat, likuiditas memadai, dan tata kelola yang transparan. Strategi akumulasi secara bertahap juga dapat dipertimbangkan untuk mengantisipasi volatilitas pasar.
Rekomendasi Saham BBCA, BREN, dan DSSA
Dari sisi rekomendasi saham, Audi menyarankan beli saham BBCA dengan target harga Rp 6.250 untuk jangka panjang.
Sementara itu, saham BREN dan DSSA lebih direkomendasikan untuk kebutuhan trading jangka pendek. Target resistance BREN berada di level Rp 2.350 per saham, sedangkan DSSA di level Rp 960 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













