kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Transaksi ETF Maret melonjak drastis


Senin, 13 April 2015 / 19:31 WIB
ILUSTRASI. Butuh Perpanjang SIM Awal November, Datangi SIM Keliling Jakarta Hari Ini 1/11/2023


Reporter: Noor Muhammad Falih | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Transaksi produk investasi exchange traded fund (ETF) naik drastis sepanjang Maret silam. Kondisi pasar modal pada Maret yang kurang kondusif disinyalir sebagai faktor utama kenaikan transaksi ETF.

Sepanjang bulan kemarin, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat transaksi ETF di pasar sekunder senilai Rp 9,11 miliar, naik hingga hampir 30 kali lipat dari nilai transaksinya sepanjang Februari yang hanya sebesar Rp 385,65 juta.

Namun hal tersebut tidak sejalan dengan tingkat frekuensi yang justru turun. Per Maret frekuensi transaksi ETF sebesar 1.563 kali, turun hingga 46,7% dibanding total frekuensi sepanjang Februari.

BEI mencatat, nilai transaksi serta frekuensi sepanjang Maret tersebut berasal dari 7 produk ETF milik Indo Premier Investment Management (IPIM). Sedangkan pada bulan sebelumnya total ada 8 produk dengan tambahan 1 ETF milik Bahana TCW Investment Management bernama Asian Bond Fund.

Direktur Utama Infovesta Utama, Parto Kawito mengatakan, kenaikan nilai transaksi serta turunnya jumlah frekuensi tersebut mengindikasikan ada investor institusi yang menjual unit kreasi ETF miliknya. Sebagai pengingat saja, investor bisa membeli ETF lewat pasar primer maupun pasar sekunder.

Di pasar primer, investor membeli ETF lewat manajer investasi yang menerbitkan produk tersebut. Di pasar primer investor membeli dengan acuan 1 unit kreasi = 100.000 unit penyertaan. Unit penyertaan ini dapat diperjual belikan di pasar sekunder seperti layaknya saham dengan acuan 1 lot = 500 unit penyertaan.

“Sepanjang Maret kemarin saya rasa ada investor institusi (yang telah membeli ETF di pasar primer), lalu profit taking di pasar sekunder karena kondisi pasar modal sedang tidak kondusif akibat pelemahan rupiah,” ujar Parto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×