kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

Tertahan Sinyal The Fed, Rupiah Menguat Tipis di Pekan Ini


Jumat, 04 September 2026 / 18:56 WIB
Tertahan Sinyal The Fed, Rupiah Menguat Tipis di Pekan Ini
ILUSTRASI. Rupiah ditutup di level Rp 17.642 per dolar AS pada Jumat (4/9/2026) atau menguat 0,28% di sepanjang pekan ini (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah cenderung menguat tipis dalam sepekan terakhir. Sekedar mengingatkan, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.642 per dolar AS pada Jumat (4/9/2026).

Secara mingguan, rupiah juga mencatatkan penguatan 0,28% atau 50 poin jika dibandingkan dengan posisi Jumat (28/8) yang berada di level Rp 17.692 per dolar AS.

Sementara itu, mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.636 per dolar AS pada Jumat (4/9/2026), menguat 0,30% atau 53 poin dari posisi hari sebelumnya di Rp 17.689 per dolar AS.

Dalam sepekan, rupiah JISDOR menguat 0,38% atau 67 poin dibandingkan posisi Jumat (28/8) yang berada di Rp 17.703 per dolar AS.

Baca Juga: Banjir Kredit Jumbo ke Emiten Data Center, Analis Ungkap Prospek EDGE, MORA, TOWR

Pergerakan mata uang Garuda berada di tengah tekanan sinyal moneter ketat dari Amerika Serikat (AS) serta ditopang oleh langkah intervensi Bank Indonesia (BI).

Pengamat mata uang sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menjelaskan bahwa pergerakan rupiah sepanjang pekan dipengaruhi oleh dinamika faktor global dan domestik.

Dari ranah global, pasar sempat tertekan oleh sinyal moneter yang cukup ketat dari AS.

"Kebijakan moneter global yang dipimpin oleh sinyal hawkish dari Gubernur The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole sempat menaikkan yield US Treasury tenor dua tahun dan mengerek naik Indeks Dolar AS," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (4/9).

Namun, tekanan terhadap mata uang emerging market tersebut berhasil diimbangi oleh meredanya gejolak pasar melalui intervensi likuiditas US Treasury lewat peningkatan operasi buyback, serta adanya spekulasi intervensi mata uang yen oleh otoritas Jepang.

Dari pasar domestik, stabilitas nilai tukar rupiah mendapat penopang kuat dari konsistensi langkah stabilisasi yang diambil oleh Bank Indonesia.

"Stabilitas rupiah ditopang oleh konsistensi intervensi Bank Indonesia melalui instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta terjaganya keseimbangan pasokan dan permintaan valas korporasi," kata Wahyu.

Baca Juga: Indointernet (EDGE) Raih Kredit Jumbo US$ 530,2 Juta, Siap Ekspansi Data Center

Memasuki pekan depan (4–11 September), pergerakan rupiah diproyeksikan akan digerakkan oleh rilis data ketenagakerjaan AS seperti Non-Farm Payrolls (NFP) yang menjadi acuan jelang rapat FOMC September, dinamika yield US Treasury, volatilitas yen, serta efektivitas kebijakan stabilisasi lanjutan dari BI.

Berdasarkan struktur grafik harian dan tren konsolidasi terkini, Wahyu memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah untuk sepekan ke depan berada dalam kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.850 per dolar AS, dengan level support di Rp 17.550–Rp 17.600 dan resistance di kisaran Rp 17.750–Rp 17.800.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×