kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Suku bunga dipangkas, yuan keok


Senin, 24 November 2014 / 09:57 WIB
ILUSTRASI. Manfaat daun talas juga bisa membantu menurunkan tekanan darah tinggi karena adanya saponin, tanin, karbohidrat, dan flavonoid.


Sumber: Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

SHANGHAI. Mata uang China, yuan, melemah ke level terendah dalam enam pekan terakhir pada transaksi perdagangan hari ini (24/11). Mengutip data China Foreign Exchange Trade System, pada pukul 10.25 waktu Shanghai, yuan melemah 0,16% menjadi 6,1349 per dollar AS. Ini merupakan level terlemah sejak 9 Oktober lalu.

Sedangkan di pasar spot, nilai tukar yuan lebih perkasa 0,12% dibanding fixed rate. Adapun posisi yuan di pasar offshore melemah 0,1% menjadi 6,1400 di Hong Kong.

Pelemahan yuan terjadi menyusul langkah People's Bank of China yang memangkas suku bunga acuan berjangka waktu satu tahun sebesar 40 basis poin menjadi 5,6% dan suku bunga deposito berjangka waktu setahun sebesar 25 basis poin menjadi 2,75%.

Sementara itu, bank sentral China juga memangkas nilai tukar acuan harian yuan sebesar 0,05% menjadi 6,1420 per dollar pada hari ini yang merupakan penurunan terbesar sejak 11 November lalu.

"Pemangkasan suku bunga menunjukkan bahwa China membutuhkan peningkatan stimulus seiring kecemasan perlambatan ekonomi mereka yang bisa semakin memburuk kuartal ini," jelas Daniel Chan, analis Brilliant & Bright Investment Consultancy Ltd di Hong Kong. Dia meramal, posisi yuan masih akan untuk jangka pendek.

Riset Bloomberg menunjukkan, ekonomi China akan tumbuh 7,3% pada kuartal empat. Ini merupakan pertumbuhan terlambat dalam lima tahun terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×