kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.001,74   -2,58   -0.26%
  • EMAS981.000 0,10%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Sritex (SRIL) Mengekspor 50 Kontainer Produk Tekstil ke 20 Negara


Jumat, 16 September 2022 / 08:01 WIB
Sritex (SRIL) Mengekspor 50 Kontainer Produk Tekstil ke 20 Negara
ILUSTRASI. Sri Rejeki Isman (SRIL) alias Sritex melepas ekspor produk industri tekstil dan produk tekstil sebanyak 50 kontainer pada Kamis (15/9).

Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias Sritex mengadakan acara pelepasan ekspor produk industri tekstil dan produk tekstil (ITPT) sebanyak 50 kontainer pada Kamis (15/9). Produk ini diberangkatkan ke 20 negara tujuan ekspor yang tersebar di empat benua melalui Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.

Nilai ekspor yang diberangkatkan pada Kamis (15/9) mencapai US$ 3,7 juta. Barang yang diekspor terdiri dari beberapa produk ITPT unggulan Indonesia seperti benang (yarn), kain jadi (finished product), dan pakaian jadi (garment).

Sebanyak 20 negara tujuan ekspor yang dimaksud adalah Amerika Serikat, Argentina, Brazil, Republik Dominika, Mesir, Meksiko, Turki, Portugal, Polandia, India, Qatar, Uni Emirat Arab, Swedia, Bangladesh, Jepang, Korea Selatan, Spanyol, Malaysia, Thailand, dan Jordania.

Empat negara dengan jumlah nilai ekspor terbesar adalah Swedia sebesar US$ 611.000, Mesir US$ 475.000, Bangladesh US$ 351.000, dan Jepang US$ 268.000.

Baca Juga: Rugi Bersih Sri Rejeki Isman (SRIL) Berkurang pada Semester I 2022

Presiden Direktur Sritex Iwan Setiawan Lukminto mengatakan, ITPT menyumbang devisa negara sebesar US$ 13,02 miliar di tahun 2021. Hal ini menjadikannya sebagai satu penyumbang devisa terbesar dari sektor nonmigas dan merupakan industri padat karya.

Kelangsungan industri tekstil juga berdampak langsung kepada 7,5 juta pekerja dan pelaku industri kecil menengah (IKM). Menurutnya, untuk terus mendorong laju ekspor nasional, masih dibutuhkan dukungan dari pemerintah dalam bentuk kebijakan yang tepat sasaran.

"Dibutuhkan optimalisasi substitusi impor yang saat ini masih membebani industri tekstil dan IKM dan kebijakan Preferrential Trade Agreement (PTA) yang melindungi industri ITPT nasional," ungkap Iwan dalam siaran pers, Kamis (15/9).

Baca Juga: Raih Penjualan US$ 348,8 Juta pada Semester I-2022, Begini Respons Manajemen Sritex

Bersama dengan pemerintah, Sritex optimistis industri ITPT akan mampu mengatasi ketidakseimbangan pasokan dan permintaan serta disrupsi makroekonomi. Untuk mencapai hal tersebut, sangat dibutuhkan harmonisasi kebijakan antarkementerian dan pemerintah daerah.

Saat ini, Sritex Group bergerak di lima lini ekosistem industri tekstil nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Lima lini tersebut adalah serat (fiber), pemintalan (spinning), penenunan (weaving), pencelupan (dyeing), dan penjahitan atau konveksi (garment).
Kelima lini tersebut menyerap tenaga kerja sebanyak 50.000 karyawan.

Sritex Group juga telah membina lebih dari 2000 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai salah satu upaya transfer of knowledge mengembangkan keahlian demi meningkatkan ekonomi daerah. Perusahaan menyediakan produk bahan baku yang dapat dikembangkan oleh UMKM dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) binaan agar ada nilai tambah dalam produk-produknya.

Hingga saat ini, komposisi ekspor terhadap pendapatan Sritex masih mendominasi yakni sebesar 60%. Sritex berkomitmen untuk terus mendorong target ekspor tekstil nasional untuk mencapai US$ 30 miliar pada tahun 2025.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×