kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

Simak Rekomendasi Saham Pilihan IPOT dan Proyeksi Pergerakan IHSG Hari Ini (19/10)


Senin, 19 Oktober 2026 / 05:30 WIB
Simak Rekomendasi Saham Pilihan IPOT dan Proyeksi Pergerakan IHSG Hari Ini (19/10)
ILUSTRASI. Indo Premier Sekuritas memberikan rekomendasi saham dan proyeksi IHSG untuk perdagangan hari ini (19/10/2026) (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada perdagangan pekan lalu. Di mana, IHSG merosot 14,91% sepanjang pekan lalu usai ditutup ke level 5.185,11 pada Jumat (16/10/2026).

Pelemahan tersebut dipicu oleh sentimen negatif pasar, terutama pengumuman MSCI yang membuka konsultasi terkait perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Sekedar mengingatkan, IHSG ditutup anjlok 11,57% ke level 5.185,11 pada Jumat (16/10/2026). Penurunan harian tersebut disebut sebagai yang terdalam sejak krisis 1998 sekaligus membawa IHSG ke level terendah sepanjang 2026.

Baca Juga: IHSG Ambruk 14,91% ke 5.185 Sepekan, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Ardy Irianto Subekti mengatakan, tekanan terhadap IHSG dipengaruhi sentimen global dan domestik. Selain kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, pasar domestik dibayangi ketidakpastian terkait evaluasi klasifikasi Indonesia oleh MSCI.

“Penurunan yang dalam membuka peluang technical rebound, namun arah selanjutnya bergantung pada arus dana asing dan respons otoritas terhadap isu MSCI serta stabilitas harga minyak,” ujar Ardy dalam keterangan resmi, Minggu (18/10/2026).

Dari eksternal, pasar turut mencermati kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS) dan eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Inflasi konsumen AS atau CPI pada September tercatat 3,7% secara tahunan dan 0,6% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 3,6%. Sementara itu, indeks harga produsen atau PPI naik 1,3% secara bulanan dan 6,3% secara tahunan.

Menurut analisis IPOT, kenaikan inflasi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Di sisi lain, meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz turut mendorong harga minyak Brent menyentuh US$ 110 per barel di akhir pekan lalu.

Kenaikan harga minyak berpotensi menjadi sentimen positif bagi emiten energi, tetapi juga dapat menambah tekanan inflasi dan pelemahan rupiah. Kombinasi sentimen tersebut membuat pergerakan pasar saham masih rentan terhadap volatilitas.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada konsultasi MSCI terkait klasifikasi pasar Indonesia. Proses konsultasi tersebut masih berlangsung, dengan batas penyampaian masukan hingga 30 April 2027 dan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027.

IPOT memperkirakan potensi arus dana keluar atau outflow dapat mencapai Rp 105 triliun hingga Rp 132 triliun, setara US$ 5,8 miliar hingga US$ 7,3 miliar, apabila reklasifikasi benar-benar terjadi. Saham BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan ASII dinilai paling rentan terdampak.

Baca Juga: Simak! Begini Arah IHSG dalam Jangka Pendek hingga Menengah

Di tengah tekanan pasar, IPOT memproyeksi arah IHSG selanjutnya ditentukan oleh perkembangan isu MSCI, respons otoritas pasar modal, arus dana asing, dan stabilitas harga minyak.

Secara teknikal, IHSG telah menembus ke bawah area support 5.342, yang disebut sebagai level terendah pada 8 Juni 2026. IHSG juga telah bergerak di bawah neckline 6.000 dari pola head and shoulders serta di bawah MA20. Kondisi tersebut membuat tren jangka pendek masih cenderung bearish.

IPOT bilang, skenario moderat berupa konsolidasi untuk membentuk dasar atau bottoming di kisaran 5.180 hingga 5.450. Sementara itu, dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang mengalami rebound menuju 5.600 apabila terdapat perkembangan positif dari komunikasi BEI dengan MSCI, keberlanjutan reformasi pasar modal, dan stabilisasi harga minyak.

Sebaliknya, dalam skenario pesimistis, IHSG berisiko kembali melemah menuju area 4.950 hingga 5.000 apabila arus dana keluar meningkat dan eskalasi konflik di sekitar Selat Hormuz menekan rupiah hingga melewati Rp 18.100 per dollar AS.

Untuk menghadapi kondisi pasar yang masih bergejolak, IPOT menyarankan investor menerapkan strategi defensif dan selektif. Investor disarankan mempertahankan porsi kas sebesar 30% hingga 40% untuk akumulasi bertahap, serta menerapkan strategi buy on breakout dengan disiplin stop loss ketat.

 

IPOT merekomendasikan sejumlah saham untuk strategi trading pekan ini, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan area masuk di atas Rp 5.950, target Rp 6.225, dan stop loss di bawah Rp 5.850. Saham PT Astra International Tbk (ASII) direkomendasikan dengan area masuk di atas Rp 4.490, target Rp 5.200, dan stop loss di bawah Rp 4.470.

Selanjutnya, IPOT merekomendasikan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dengan area masuk di atas Rp 7.620, target Rp 8.500, dan stop loss di bawah Rp 7.400. Untuk instrumen berbasis emas, IPOT juga merekomendasikan Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD) sebagai alternatif lindung nilai atau hedging di tengah volatilitas pasar dan pelemahan rupiah.

Meski demikian, IPOT menekankan pentingnya disiplin dalam menentukan titik masuk dan batas kerugian. Strategi trading tetap perlu mempertimbangkan perkembangan sentimen pasar dan konfirmasi pergerakan harga sebelum investor mengambil posisi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×