kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Sentimen positif enggan mendekati rupiah


Sabtu, 01 Juni 2013 / 08:37 WIB
Sentimen positif enggan mendekati rupiah
ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Selasa (14/12) melemah 0,70 persen atau turun 47 poin di level 6.615 dibandingkan penutupan sebelumnya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.


Reporter: Agung Jatmiko | Editor: Wahyu T.Rahmawati

JAKARTA. Rupiah melemah cukup dalam selama sepekan terakhir. Pada penutupan, Jumat (31/5) di pasar spot, pasangan USD/IDR menguat 1,05% menjadi 9.877 dibanding harga penutupan pekan lalu. Sementara, kurs tengah dollar Amerika Serikat (AS) di Bank Indonesia (BI) menguat 0,22% menjadi 9.795.

Reny Eka Putri, analis Bank Mandiri mengatakan, selama sepekan terakhir pelemahan rupiah cenderung didominasi oleh faktor eksternal. Penguatan dollar AS di pasar uang global menekan posisi rupiah secara tidak langsung. Belum ada informasi baru dalam negeri yang mampu mendongkrak nilai tukar rupiah.

Kekhawatiran mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak masih mempengaruhi psikologi pasar. Rupiah bisa mendapat momentum penguatan, bila data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia positif.

Albertus Christian, analis Monex Investindo Futures menambahkan, kecenderungan pelemahan belum lepas dari pergerakan nilai tukar rupiah sepekan ini. Berbagai informasi justru memperkuat posisi dollar AS di pasar uang global. Indeks manufaktur China yang diprediksi melemah, bisa menekan rupiah di awal pekan depan.

Menurut Albertus, indeks manufaktur Indonesia yang masih diprediksi mengalami ekspansi, bisa mengurangi tekanan terhadap rupiah. Ditambah lagi, inflasi Indonesia year to year kemungkinan tidak akan banyak berubah sehingga tekanan terhadap rupiah lebih longgar.

Reny memprediksi, pergerakan rupiah cenderung flat to negative, di kisaran 9.780 - 9.880 sepekan mendatang. Sedangkan, Albertus memprediksi, rupiah berpotensi menguat terbatas di kisaran 9.780 – 9.985.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×