kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.790.000   -15.000   -0,53%
  • USD/IDR 16.909   -48,00   -0,28%
  • IDX 8.992   -18,15   -0,20%
  • KOMPAS100 1.239   1,44   0,12%
  • LQ45 875   3,69   0,42%
  • ISSI 330   0,16   0,05%
  • IDX30 448   2,63   0,59%
  • IDXHIDIV20 528   6,59   1,26%
  • IDX80 138   0,26   0,19%
  • IDXV30 146   2,21   1,53%
  • IDXQ30 144   1,54   1,08%

Sentimen Global Mereda, Rupiah Menguat ke Rp 16.895 per Dolar AS


Kamis, 22 Januari 2026 / 16:11 WIB
Sentimen Global Mereda, Rupiah Menguat ke Rp 16.895 per Dolar AS
ILUSTRASI. Rupiah menguat tipis, namun rilis PDB dan inflasi AS berpotensi guncang pasar. Ketahui risiko dan proyeksi rupiah untuk Jumat (23/1). (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Kamis (22/1/2026), kurs rupiah di pasar spot menguat 0,24% menjadi Rp 16.895 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp 16.936 per dolar AS.

Sejalan, rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp 16.902 per dolar AS, menguat 0,35% dari sehari sebelumnya yang berada di Rp 16.963 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah didorong oleh sentimen global yang mereda, khususnya dari Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump disebut telah menarik mundur ancaman tarif terhadap Eropa dan mengumumkan kerangka kesepakatan terkait Greenland.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp16.895, Sentimen Global Masih Jadi Penopang

"Trump juga menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer tidak akan dilakukan," ujar Ibrahim, Kamis (22/1/2026).

Pelaku pasar hari ini menantikan sejumlah rilis penting dari AS, mulai dari Produk Domestik Bruto (PDB), klaim pengangguran awal, hingga ukuran inflasi pilihan bank sentral AS, yakni Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE).

Data-data tersebut akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve ke depan.

Sementara dari dalam negeri, sentimen positif datang dari optimisme pasar terhadap upaya pemerintah dalam memberantas praktik under invoicing pada kegiatan impor dan ekspor.

Praktik ilegal tersebut dinilai telah terjadi secara struktural dengan nilai yang mencapai ribuan triliun rupiah dan berdampak besar terhadap defisit anggaran negara.

Baca Juga: Rupiah Terus Menguat ke Rp 16.903 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (22/1)

Ia menambahkan, pemberantasan under invoicing menjadi fokus Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Pemerintah menilai langkah tersebut akan menambah penerimaan Bea dan Cukai secara signifikan.

"Ke depan, pengawasan akan diperketat, termasuk melalui pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI)," tambahnya.

Untuk perdagangan Jumat (23/1/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif seiring menunggu rilis data ekonomi global. Namun, rupiah berpeluang menutup pekan ini dengan penguatan terbatas.

Rupiah pada Jumat diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.860 - Rp 16.900 per dolar AS.

Selanjutnya: IHSG Melemah 0,20% ke 8.992 pada Kamis (22/1/2026), BUMI, BRPT, SCMA Top Losers LQ45

Menarik Dibaca: Katalog Promo Hypermart Dua Mingguan sampai 28 Januari 2026, Aneka Telur Diskon 10%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×