kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Saham bank lapis dua cenderung lebih defensif


Rabu, 14 November 2018 / 17:35 WIB
Saham bank lapis dua cenderung lebih defensif
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia

Reporter: Yoliawan H | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat saham-saham sektor keuangan sudah mulai bangkit. Tercatat pergerakan saham sektor finansial sejak awal tahun hingga saat ini turun 3,28% (year to date). Kendati begitu, masih lebih baik bila dibandingkan dengan IHSG yang masih menurun 8,19% ytd.

Di sisi lain, ini merupakan angin segar bagi saham-saham perbankan non unggulan atau saham bank second liner yang dirasa cenderung defensif menahan terpaan sentimen negatif.

Analis Binaartha Sekuritas, Nafan Aji mengatakan, banyak faktor yang mempengaruhi saham ini lebih defensif seperti dari sisi kinerja yang cukup stabil dan fokus mereka yang lebih doyan menenggarap sektor ritel.

“Pada kenyataanya bank golongan BUKU III yang termasuk bank second liner fokus pada pasar yang belum terjamah oleh bank BUKU IV. Ini membuat mereka lebih defensif,” ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (14/11). Bank BUKU III merupakan bank dengan modal inti Rp 5 triliun -  di bawah Rp 30 triliun.

Dari pergerakan harga, saham-saham second liner masih bergerak di rentang positif.

Sebut saja saham PT Bank Mayapada International Tbk (MAYA) yang masih melesat 93,68% ytd ke level Rp 7.000 per saham dengan pertumbuhan kredit kuartal III 2018 yang masih kencang yakni 17,7% dari setahun sebelumnya (year on year)

PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) turun 9,87% ke Rp 845 per saham dengan pertumbuhan kredit 16% yoy, PT BPD Jawa Timur Tbk (BJTM) turun 7,04% ytd ke Rp 660 per saham dengan pertumbuhan kredit 7,74% yoy.

Dan, PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) turun 19,17% ytd ke Rp 1.940 per saham dengan pertumbungan kredit 5,2% yoy.

Nafan sendiri merekomendasikan untuk masuk ke BJTM dengan terget harga jangka menengah Rp 720 per saham. Sedangkan pihaknya masih menyarankan wait and see BJBR, MAYA dan NISP hingga menunggu sentimen positif yang datang.

Lebih lanjut, Direktur Utama MAYA, Hariyono Tjahjarijadi mengatakan di kondisi saat ini pihaknya masih optimis target akhir tahun dapat tercapai. “Akhir tahun sepertinya dapat tumbuh sekitar 15% yoy,” ujar Hariyono kepada Kontan, Rabu (14/11). Adapun MAYA masih akan fokus ke segmen ritel komersial, korporasi dan segmen UMKM.

Setali tiga uang, William Hartanto, Analis Panin Sekuritas mengatakan, saham-saham bank second liner cenderung lebih tahan banting karena pada dasarnya saham-saham ini sering dijadikan alternatif saat saham blue chip perbankan mengalami terpaan sentimen global.

“Ini bisa dimanfaatkan saat saham big caps bank sedang menurun. Selain itu kecenderungannya emiten sektor ini memberikan dividen yield yang lebih menarik,” ujar William. tercatat, MAYA berencana bagikan dividen interim sebesar Rp 35 per saham dari total sebesar Rp 233,57 miliar.

William sendiri merekomendasikan untuk masuk ke saham BJBR dan BJTM di jangka menengah dengan target harga mecapai Rp 2.100 per saham untuk BJBR dan Rp 700 per saham untuk BJTM.

Sedangkan untuk jangka panjang bisa mempertimbangkan untuk masuk ke MAYA dengan target harga Rp 9.000 per saham dan NISP dengan target Rp 1.000 - Rp 1.200 per saham.

 

 





Close [X]
×