kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Rupiah ambruk menembus Rp 14.246 per dollar AS


Senin, 07 September 2015 / 17:12 WIB


Sumber: Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Mata uang Garuda terkapar dan menoreh pelemahan terbesar dalam dua pekan terakhir pada hari ini (7/9). Mengutip data Bloomberg, hari ini, rupiah ditutup dengan pelemahan 0,6% menjadi 14.246 per dollar AS. Ini merupakan pelemahan terbesar sejak 24 Agustus lalu.

Pada transaksi sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level 14.252, yang merupakan level terlemah sejak Agustus 1998. Dengan demikian, sepanjang tahun ini, pelemahan rupiah sudah mencapai 13% dan menjadi mata uang Asia dengan performa terburuk setelah Malaysia.

Rupiah keok setelah data menunjukkan cadangan devisa Indonesia melorot ke level terendah dalam 17 bulan terakhir. Data pemerintah menunjukkan, pada periode enam bulan yang berakhir Agustus 2015, cadangan devisa Indonesia turun sebesar US$ 10,2 miliar menjadi US$ 105,3 miliar.

Standard & Poor's menyatakan prihatin atas posisi cadangan devisa Indonesia. Apalagi, Kyran Curry, director of sovereign ratings S&P di Singapura menilai, posisi Indonesia lebih rentan ketimbang Malaysia saat dana asing hengkang dari pasar finansial Indonesia.

"Risiko terbesar bagi rupiah saat ini adalah akun modal. Namun kami menilai cadangan devisa jangan turun terlalu dalam, sebab perbankan meningkatkan penempatan uang asing mereka ke bank sentral dengan alasan fleksibilitas yang diberikan Bank Indonesia," jelas Leo Rinaldy, ekonom PT Mandiri Sekuritas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×