Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup relatif stabil dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (14/10/2026). Pergerakan rupiah berlangsung di tengah pelemahan dolar AS menjelang rilis data inflasi Negeri Paman Sam.
Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.903 per dolar AS, melemah tipis 0,01% dibandingkan posisi penutupan Selasa (13/10/2026) di Rp 17.900 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) menguat 0,18% ke Rp 17.898 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 17.930 per dolar AS.
Baca Juga: Netflix Kantongi Hak Siar Piala Dunia 2030 di Spanyol dan Andorra
Di pasar global, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama turun 0,09% ke 102,09 setelah terkoreksi 0,35% pada perdagangan Selasa.
Sejumlah mata uang utama dunia menguat terhadap dolar AS. Euro naik 0,09% ke US$ 1,1208, yen Jepang menguat 0,08% ke 158,19 per dolar AS, sedangkan pound sterling naik 0,15% ke US$ 1,3272.
Pelemahan dolar AS sebelumnya dipicu oleh pernyataan Presiden The Fed New York John Williams dan Gubernur The Fed Christopher Waller yang ditafsirkan pasar bernada dovish, atau cenderung mendukung kebijakan moneter yang lebih longgar.
Pelaku pasar juga menantikan pernyataan pejabat The Fed Thomas Barkin dan Michelle Bowman untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga.
Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang sebesar 77% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober 2026. Probabilitas tersebut meningkat dari 51% sebulan sebelumnya.
Baca Juga: Negara Asia Harus Waspadai Munculnya Krisis Keuangan Lagi
Meski demikian, pasar masih memperhitungkan pengetatan kebijakan moneter kumulatif sekitar 75 basis poin hingga akhir 2027.
Perhatian investor kini tertuju pada rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS periode September. Inflasi AS diperkirakan meningkat 0,6% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi diproyeksikan naik menjadi 3,6% dari 3,4%.
Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed dan arah pergerakan dolar AS, yang selanjutnya dapat memengaruhi nilai tukar rupiah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














