Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Jumat (13/2/2026).
Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 16.836 per dolar Amerika Serikat (AS), turun tipis 0,05% dibanding posisi Kamis (12/2/2026) di Rp 16.828 per dolar AS.
Pelemahan juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar (Jisdor). Rupiah tercatat melemah 0,11% ke Rp 16.844 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 16.826 per dolar AS.
Baca Juga: Meski Pendapatan Tumbuh, XLSMART (EXCL) Alami Rugi Bersih Rp 4,43 Triliun pada 2025
Menanti Data Inflasi AS
Di pasar global, pergerakan mata uang utama cenderung terbatas menjelang rilis data inflasi AS yang dinilai akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.
Euro turun tipis ke level US$1,1863, sementara poundsterling melemah 0,1% ke US$1,3613.
Dolar Australia, yang sempat menguat dalam beberapa pekan terakhir seiring sikap hawkish bank sentralnya, terkoreksi 0,3% ke US$0,7072. Meski demikian, mata uang tersebut masih berpeluang mencatat kenaikan mingguan sekitar 0,9%.
Baca Juga: Utang Membengkak, Moody's Pangkas Rating Indika (INDY) ke B1
Indeks dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama naik tipis ke 97,01. Namun secara mingguan, indeks tersebut masih melemah sekitar 0,7%.
Tekanan terhadap dolar dipengaruhi oleh penguatan sejumlah mata uang lain serta keraguan pasar terhadap ketahanan ekonomi AS.
Data terbaru menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran di AS turun lebih kecil dari perkiraan pekan lalu.
Sebelumnya, laporan tenaga kerja mencatat pertumbuhan lapangan kerja Januari meningkat secara tak terduga.
Meski demikian, sejumlah analis menilai angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang solid.
Mengutip Reuters, Blerina Uruci, kepala ekonom AS di T. Rowe Price menilai, penciptaan lapangan kerja masih terkonsentrasi di sektor kesehatan, bantuan sosial, dan konstruksi.
Baca Juga: Transaksi Kripto di Indodax Capai Rp 201 Triliun Tahun 2025
Selain itu, revisi data menunjukkan payroll negatif pada empat dari 12 bulan sepanjang 2025. Ia pun mengingatkan pelaku pasar agar tidak terlalu cepat merasa puas dengan laporan tersebut.
Saat ini, pelaku pasar masih memperkirakan sekitar dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, dengan peluang pemotongan pertama diperkirakan terjadi pada Juni.
Dinamika tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah dan mata uang emerging markets lainnya.
Selanjutnya: China dan AS Gelar Pertemuan Intelijen Anti-Narkotika
Menarik Dibaca: Promo JSM Hypermart 13-16 Februari 2026, Aneka Biskuit Kaleng Diskon hingga 40%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)