kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Rupiah di kurs tengah BI cetak rekor terburuk sejak Mei 2019 setelah ke Rp 14.490


Kamis, 12 Maret 2020 / 10:19 WIB
ILUSTRASI. Rupiah terus melemah


Reporter: Anna Suci Perwitasari | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah di kurs tengah Bank Indonesia (BI) catatkan rekor terburuknya dalam 10 bulan. Kamis (12/3), rupiah pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) berada di level Rp 14.490 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Ini membuat mata uang Garuda melemah 1,16% dibanding hari sebelumnya yang ada di level Rp 14.323 per dolar AS. Ini juga menjadi rekor terburuk bagi rupiah sejak akhir 23 Mei 2019 lalu. 

Kala itu, level rupiah di kurs tengah BI berada di Rp 14.513 per dolar AS.

Pergerakan rupiah di pasar spot pun tak jauh berbeda. Mengutip Bloomberg, Kamis (12/3) pukul 10.11 WIB, rupiah spot melemah 89 poin atau 0,61% ke posisi Rp 14.463 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah di pasar spot dibuka melemah pada perdagangan hari ini

Mayoritas mata uang di kawasan Asia ini pun berada di zona merah, dengan peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,93%.

Mengikuti di belakangnya adalah won Korea Selatan yang terdepresiasi 0,87%. Dilanjutkan oleh ringgit Malaysia dan baht Thailand yang masing-masing turun 0,50% dan 0,34%.

Sementara itu, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan tertinggi setelah naik 1,03% terhadap the greenback

Pelemahan pada mata uang di kawasan ini sejalan dengan bursa Asia yang juga memerah. Penyebabnya, larangan berpergian ke Eropa yang disampaikan Presiden AS Donald Trump membuat pasar semakin khawatir terhadap perekonomian global.

Ini membuat investor pun lari dari aset berisiko dan mengincar safe haven.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×