Reporter: Nur Qolbi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Momentum bulan Ramadan dan Lebaran dapat menjadi sentimen positif bagi beberapa sektor bisnis. Perusahaan yang biasanya dianggap mendulang keuntungan pada momen keagamaan ini adalah sektor barang konsumsi dan retail.
Hal ini seiring dengan peningkatan permintaan terhadap produk-produk yang dijual para perusahaan tersebut. Sebagaimana diketahui, masyarakat Indonesia biasanya membuat parsel, kue lebaran, dan membeli pakaian baru untuk menyambut perayaan Idul Fitri.
Akan tetapi, di tahun ini, ada sejumlah sentimen negatif yang membayangi kedua sektor tersebut. Mulai dari rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 11% dari 10% mulai April 2022, lalu kenaikan harga komoditas yang dapat meningkatkan ongkos produksi, serta daya beli masyarakat yang belum benar-benar pulih.
Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya mengatakan, terkait kenaikan PPN, pemerintah melakukan pengecualian terhadap 15 barang dan jasa yang menjadi kebutuhan primer. Namun, detail kebijakannya masih disusun sehingga informasinya belum terlalu jelas.
Selanjutnya, terkait kenaikan harga komoditas, maka hal ini juga dapat mempengaruhi bahan baku yang pada akhirnya meningkatkan beban perusahaan. Di samping itu, kenaikan harga komoditas juga dapat menekan kemampuan konsumsi sebagian masyarakat.
Baca Juga: Perbankan Swasta Optimistis Penyaluran Kredit Bakal Meningkat Tahun Ini
Dengan berbagai sentimen tersebut, Cheryl memperkirakan sektor barang konsumsi dan retail masih bisa bertumbuh di Ramadan dan Lebaran, tetapi ada kemungkinan laba bakal menipis.
"Hal yang bisa mendukung konsumsi adalah pemerintah melonggarkan pembatasan kegiatan masyarakat sehingga bisa memacu konsumsi," kata Cheryl saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (15/3).
Selain dua sektor di atas, sektor yang berpotensi terkena efek positif momentum Ramadan dan Lebaran adalah pengelola jalan tol.
Pasalnya, pemerintah diperkirakan akan memperbolehkan masyarakat untik mudik Lebaran seiring dengan kasus Covid-19 yang sudah terkendali.
Oleh sebab itu, menurut Cheryl, saham-saham retail, barang konsumsi, dan pengelola jalan tol menarik untuk dicermati. Saat ini, ia merekomendasikan buy saham PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR).
Koreksi harga yang terjadi pada saham-saham tersebut dapat dijadikan kesempatan beli. Dari harga saat ini, Cheryl melihat masih ada potensi kenaikan harga sebesar 5%-10% pada saham-saham tersebut.
Analis Sucor Sekuritas Benyamin Mikael menambahkan, perusahaan yang bergerak di sektor poultry juga akan diuntungkan dengan momentum Ramadan dan Lebaran. Pasalnya, permintaan masyarakat terhadap ayam berpotensi meningkat jelang Lebaran sehingga bakal menaikkan harga jualnya di atas harga rata-rata.
Untuk tahun ini, Benyamin melihat, harga ayam berpotensi naik lebih tinggi seiring dengan mobilitas masyarakat yang kembali normal, dampak positif commodity boom (terutama CPO) terhadap sebagian masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Baca Juga: Trafik pengunjung Naik, Simak Rekomendasi Sektor Ritel dari Mirae Asset Sekuritas
Pemerintah juga aktif melakukan culling (afkir) sehingga kelebihan pasokan ayam dapat berkurang.
Di sisi lain, meningkatnya harga bahan baku pakan dapat menjadi penahan pertumbuhan kinerja perusahaan poultry.
"Kuncinya di harga jual ayam. Kalau bisa di atas Rp 19.000-Rp 20.000 per ekor di tingkat peternak, saya rasa bottom line akan terjaga," ucap Benyamin.
Hal lain yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan bahwa permintaan ayam dapat turun sebentar setelah Lebaran.
Saat ini, Benyamin merekomendasikan buy PT JAPFA Tbk (JPFA) dengan target harga Rp 2.100 per saham untuk jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)