Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan mata uang berbasis komoditas diperkirakan masih akan berlangsung variatif sepanjang tahun 2026, di tengah tren penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian ekonomi global.
Sejumlah valas komoditas seperti dolar Australia (AUD) dan dolar Kanada (CAD) dinilai masih memiliki daya tahan, sementara dolar Selandia Baru (NZD) cenderung lebih rentan tertekan.
Melansir Trading Economics pada Minggu (11/1/2026) pukul 12.45 WIB, valas AUD/USD bertengger di 0,67 atau naik 0,19% secara bulanan dan 0,23% secara year-to-date (ytd).
Kemudian NZD/USD berada di level 0,57 atau menyusut 1,43% secara bulanan dan menyusut 0,40% ytd. Ada pun USD/CAD berada di level 1,39 atau naik 0,87% secara bulanan dan 1,40% secara ytd.
Baca Juga: Dapat Izin OJK dan Sokongan Rp 1 Triliun, ICEx Siap Perkuat Ekosistem Kripto Nasional
Research and Development ICDX Taufan Dimas Hareva menjelaskan, penguatan dolar AS tidak serta-merta menekan seluruh valas komoditas secara seragam.
Pergerakan masing-masing mata uang sangat dipengaruhi oleh fundamental domestik dan karakter komoditas unggulan negara terkait. NZD dinilai lebih rentan karena prospek pertumbuhan ekonomi yang melemah serta normalisasi kebijakan moneter yang relatif lebih cepat.
“Tekanan terhadap NZD tercermin dari koreksi bulanan yang lebih dalam. Sebaliknya, AUD dan CAD masih menunjukkan ketahanan karena ditopang oleh harga komoditas utama seperti bijih besi dan energi, serta fundamental eksternal yang relatif solid,” ujar Taufan kepada Kontan, Jumat (9/1/2026).
Ia menambahkan, ke depan penguatan dolar AS berpotensi memberikan tekanan lanjutan pada NZD. Sementara itu, AUD dan CAD cenderung bergerak lebih defensif dan fluktuatif, sejalan dengan dinamika harga komoditas global.
Sepanjang 2026, Taufan menyebut sentimen negatif bagi valas komoditas masih berasal dari risiko perlambatan ekonomi global, potensi suku bunga AS yang bertahan tinggi lebih lama, serta volatilitas harga komoditas akibat ketidakpastian geopolitik.
Meski demikian, katalis positif tetap terbuka, terutama jika permintaan dari China mulai pulih, inflasi global stabil, dan bank sentral negara produsen komoditas mengadopsi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
“Kondisi ini membuat valas komoditas bergerak lebih selektif, tidak lagi menguat serempak seperti pada fase super-cycle sebelumnya,” jelas Taufan.
Dalam lanskap tersebut, CAD dinilai Taufan menjadi valas komoditas yang relatif lebih menarik sepanjang 2026. Dukungan sektor energi serta keterkaitan erat dengan siklus ekonomi AS menjadi faktor penopangnya.
Baca Juga: Dolar AS Menguat, Begini Proyeksi Rupiah untuk Besok (12/1)
AUD juga masih memiliki prospek moderat, khususnya jika harga komoditas industri dan permintaan dari China menunjukkan perbaikan.
Sebaliknya, NZD dinilai memiliki risiko yang lebih besar karena sensitivitasnya terhadap pelemahan pertumbuhan ekonomi global.
Adapun dari sisi proyeksi harga, Taufan memproyeksi AUD/USD bergerak di kisaran 0,63 - 0,69 sepanjang 2026.
Sementara itu, USD/CAD diproyeksikan berada di rentang 1,30 - 1,38 per dolar AS, dengan volatilitas yang dipengaruhi oleh harga minyak dan kebijakan The Fed.
Sedangkan NZD/USD diperkirakan bergerak lebih lemah di kisaran 0,57 - 0,63, sejalan dengan tantangan pertumbuhan dan tekanan eksternal yang masih membayangi.
Selanjutnya: Dapat Izin OJK dan Sokongan Rp 1 Triliun, ICEx Siap Perkuat Ekosistem Kripto Nasional
Menarik Dibaca: 12 Kebiasaan di Malam Hari yang Bikin Susah Kurus, Apa Saja?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













