kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Proyek Smelter ADMR 1,5 Juta Ton: Ini Target Harga Saham dari Sekuritas


Jumat, 09 Januari 2026 / 07:11 WIB
Proyek Smelter ADMR 1,5 Juta Ton: Ini Target Harga Saham dari Sekuritas
ILUSTRASI. Proyek Smelter ADMR 1,5 Juta Ton: Ini Target Harga Saham dari Sekuritas


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Demi mendorong pemulihan kinerja jangka panjang, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) terus memacu ekspansi dan diversifikasi bisnis. Salah satu fokus utama perseroan adalah pengembangan smelter aluminium yang digarap oleh anak usahanya, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI).

Saat ini, ADMR tengah memaksimalkan operasional bertahap untuk sejumlah tungku (pot) smelter aluminium. Manajemen menyampaikan bahwa proyek smelter ini akan dikembangkan dalam tiga tahap dengan total kapasitas produksi mencapai 1,5 juta ton aluminium ingot per tahun.

Pada tahap pertama, smelter aluminium diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 500.000 ton aluminium ingot per tahun. Fase ini masih menggunakan pembangkit listrik berbasis batubara yang saat ini sedang dalam tahap konstruksi.

Sementara itu, tahap kedua yang memanfaatkan sumber energi terbarukan berupa tenaga air (hydropower) dijadwalkan mencapai commercial operation date (COD) pada awal 2031. Adapun hasil produksi smelter tahap pertama nantinya akan dipasarkan ke pasar domestik maupun ekspor.

Baca Juga: Ini Rekomendasi Saham EXCL, GGRM dan DEWA untuk Hari Ini (9/1)

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai ekspansi smelter aluminium tersebut akan menjadi katalis positif bagi kinerja ADMR, meskipun dampaknya belum akan terasa dalam waktu dekat.

“Pada 2026, dampaknya masih terbatas karena produksi optimal baru tercapai di akhir tahun. Kontribusi signifikan terhadap laba diperkirakan baru akan terasa pada 2027,” ujar Sukarno kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).

Menurut Sukarno, pada 2026 kinerja ADMR masih akan ditopang oleh bisnis batubara metalurgi. Hal ini seiring peluang pemulihan kinerja di tengah stabilisasi harga dan basis kinerja 2025 yang relatif rendah.

Pandangan serupa disampaikan Equity Research Analyst Ajaib Sekuritas, Rizal Rafly. Ia menilai harga batubara metalurgi global diproyeksikan tetap tinggi dalam jangka pendek, dengan rata-rata sekitar US$ 200 per ton pada 2026.

Kondisi tersebut didukung oleh permintaan kuat dari India dan Asia Tenggara, di tengah pengetatan pasokan global. Rizal mencatat, Australia yang menyumbang lebih dari 50% perdagangan batubara metalurgi seaborne global tengah menghadapi penutupan tambang dan gangguan cuaca. Sementara itu, ekspor Rusia masih tertekan oleh sanksi dan kendala logistik.

“Dengan minimnya proyek baru dan produksi baja Asia yang tetap resilien, pasar diperkirakan tetap ketat hingga 2027. Ini menjaga harga jauh di atas rata-rata pra-pandemi sebesar US$ 150 per ton,” jelas Rizal dalam riset tertanggal 20 Oktober 2026.

Tonton: Waspada! Super Flu Menyebar Cepat di 8 Provinsi

Di sisi lain, Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Thomas Radityo, mengingatkan bahwa meskipun prospek ADMR cenderung positif, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko.

Risiko tersebut antara lain berasal dari volatilitas harga batubara dan aluminium yang dapat memengaruhi pendapatan serta margin perseroan. Selain itu, potensi hambatan operasional yang mengganggu percepatan volume produksi batubara juga berisiko menekan kinerja.

Dari sisi ekspansi, keterlambatan realisasi proyek aluminium berpotensi menunda kontribusi pendapatan baru. “Di luar itu, perubahan kebijakan dan regulasi pemerintah juga menjadi faktor risiko yang dapat memengaruhi keberlanjutan usaha perseroan ke depan,” ujar Thomas dalam riset 3 November 2026.

Berdasarkan laporan keuangan, sepanjang Januari–September 2025 ADMR membukukan pendapatan sebesar US$ 675,1 juta, turun 19,7% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara laba bersih tercatat sebesar US$ 204,2 juta, atau turun 38,7% yoy.

Sukarno menilai penurunan kinerja sembilan bulan 2025 yang dipicu oleh koreksi average selling price (ASP) bersifat sementara. Dengan demikian, pendapatan dan laba ADMR berpeluang kembali mencatatkan pertumbuhan moderat pada 2026.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Sukarno merekomendasikan buy saham ADMR dengan target harga Rp 2.000 per saham. Sementara Thomas memberikan rekomendasi hold dengan target harga Rp 1.400 per saham. Di sisi lain, Analis J.P. Morgan Sekuritas Indonesia, Arnanto Januri, merekomendasikan overweight saham ADMR dengan target harga Rp 2.170 per saham.


 

Berlaku 2026, Poligami Rahasia Jadi Kejahatan Serius

Selanjutnya: Drop‑Resistant Vivo Y19s Hadir, Ubah Standar Ponsel Kelas Menengah

Menarik Dibaca: Drop‑Resistant Vivo Y19s Hadir, Ubah Standar Ponsel Kelas Menengah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×