kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Pergerakan nikel menanti sinyal perang dagang


Jumat, 12 Juli 2019 / 15:50 WIB

Pergerakan nikel menanti sinyal perang dagang
ILUSTRASI. Bijih nikel di peleburan milik Antam

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Nikel kembali bergerak menguat. Kamis (11/7) harga nikel di London Metal Exchange ada di US$ 13.073 per ton, naik 1,12% dari sehari sebelumnya. Efek perang dagang dinilai menjadi faktor utama yang menggerakkan harga nikel.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, menguatnya harga nikel disebabkan oleh ekspektasi positif menanti hasil pertemuan antara pejabat Amerika Serikat dan China. Harapannya, dalam pertemuan tersebut semakin memberikan sinyal-sinyal positif agar perang dagang semakin mereda. Jika perang dagang dinyatakan usai, Ibrahim menyebutkan harga nikel bisa kembali melesat di level US$ 13.0000-US$ 14.000 per ton.

Baca Juga: Smelter Nikel Wanatiara Persada di Maluku Utara Beroperasi Desember 2019

"Dengan demikian, China bisa kembali mengekspor hasil produksi nikelnya," jelas Ibrahim.

Selain itu, Ibrahim menyampaikan kemungkinan The Fed untuk memangkas suku bunga acuan juga menjadi penyebab harga nikel menguat. "Karena ekspektasi The Fed menurunkan tingkat suku bunga acuannya kembali tinggi, harga-harga komoditas mengalami kenaikan. Salah satunya, nikel," ujar Ibrahim.

Meskipun berharap perang dagang segera mereda, Ibrahim pesimis pada pertemuan antara pejabat AS dan China pekan depan menghasilkan komitmen untuk segera meredakan perang dagang. "Untuk saat ini saja, perang dagang sudah mulai merembet kemana-mana. Bahkan Prancis sudah menerapkan pajak tinggi untuk IT yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan AS," tambah Ibrahim.

Oleh karena itu, Ibrahim berpendapat harga nikel bisa saja kembali turun untuk jangka panjang. Menurutnya, nikel bisa melemah hingga di bawah level US$ 11.000 per ton. Selain faktor perang dagang yang tak usai, faktor perlambatan ekonomi global menjadi salah satu yang bisa menyebabkan nikel melemah.

Dari faktor domestik, Ibrahim menyebutkan smelter yang akan mulai dioperasikan tiga perusahaan di Indonesia turut mempengaruhi harga nikel. Dengan adanya smelter ini, ia memperkirakan produk nikel akan menumpuk. "Sedangkan permintaan nikel menurun," tambah Ibrahim.

Walaupun demikian, secara teknikal harga nikel masih positif untuk menguat. Menurutnya, harga nikel bisa menguat di level US$ 12.950-US$ 13.140 per ton.

Indikator stochastic, MACD, RSI 60% positif. "Jadi secara teknikal masih akan naik harganya dalam minggu-minggu ini," tutup Ibrahim.


Reporter: Adrianus Octaviano
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0553 || diagnostic_web = 0.2789

Close [X]
×