kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Pasokan membludak, aluminium anjlok


Jumat, 18 November 2016 / 09:00 WIB
 Pasokan membludak, aluminium anjlok


Reporter: Namira Daufina | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Pasca kemenangan Trump, harga aluminium sempat menguat mencapai level tertinggi sekitar setahun terakhir. Tapi, penguatan rupanya tidak bertahan lama.

Kamis (17/11) pukul 13.15 WIB, harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange terkikis 0,41% jadi US$ 1.690 per ton. Bahkan dalam sepekan, harganya tergerus 4,52%.

Research & Analyst Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto mengatakan, harga aluminium antara lain tertekan karena pelaku pasar mengantisipasi pidato Gubernur The Fed Janet Yellen, Kamis malam waktu Indonesia.

Pelaku pasar menunggu apakah Yellen memberi sinyal tegas soal kenaikan suku bunga The Fed bulan depan. "Pasar sangat yakin suku bunga The Fed naik, melihat rencana kebijakan Donald Trump yang dipandang ekspansif ke ekonomi,” jelas Andri.

Hal ini melambungkan kurs dollar AS dan menekan komoditas yang dijual dalam denominasi dollar AS. Untuk jangka panjang, kebijakan Trump memang bisa jadi sentimen positif bagi aluminium.

Bila pembangunan berjalan agresif, permintaan aluminium sebagai bahan baku akan naik. Cuma, stok aluminium di LME per 15 November masih membengkak 2,9% menjadi 2,16 juta ton. “Indikasinya permintaan belum meningkat seperti harapan,” tutur Andri.

Belum lagi, Alcoa Inc, salah satu produsen aluminium terbesar dunia, melaporkan produksinya naik 2,5%. Angka ini lebih tinggi dari prediksi di awal tahun, yakni produksi naik sekitar 2%.

Untunglah, ada indikasi kenaikan permintaan, khususnya dari China, AS dan Eropa. Menteri Industri dan Informasi Teknologi China melaporkan permintaan aluminium hingga 2020 diperkirakan mencapai 40 juta ton.

“Kans harga aluminium naik ke US$ 2.500 per metrik ton masih terbuka,” tebak Andri.

Berkaca dari teknikal harian, harga bergerak di atas MA 50, 100 dan 200, mendukung kenaikan. Garis MACD di area positif berpola uptrend. Serta RSI yang ada di level 50 juga mengindikasikan pergerakan naik masih terbuka, walau berada di area netral.

Alhasil, Andri menilai harga aluminium akan kembali koreksi pada perdagangan hari ini dan bergulir di rentang US$ 1.680–US$ 1.740 per metrik ton. Sepekan ke depan, harga bergerak di rentang US$ 1.650–US$ 1.800 per metrik ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×