kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.406.000   2.000   0,14%
  • USD/IDR 16.245
  • IDX 7.288   -25,97   -0,36%
  • KOMPAS100 1.140   -5,84   -0,51%
  • LQ45 919   -3,90   -0,42%
  • ISSI 219   -0,13   -0,06%
  • IDX30 458   -2,90   -0,63%
  • IDXHIDIV20 550   -3,55   -0,64%
  • IDX80 129   -0,44   -0,34%
  • IDXV30 130   -0,02   -0,02%
  • IDXQ30 154   -1,11   -0,71%

Pasar saham Indonesia masih menarik di mata investor asing untuk jangka panjang


Selasa, 20 Februari 2018 / 20:26 WIB
Pasar saham Indonesia masih menarik di mata investor asing untuk jangka panjang
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta


Reporter: Riska Rahman | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring dengan pecahnya rekor baru bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), investor asing juga mencatatkan net buy pada perdagangan di awal pekan ini.

Pada perdagangan Senin (19/2) lalu, data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat investor asing melakukan aksi beli sebesar Rp 419,67 miliar. Di saat yang sama, IHSG pun kembali memecahkan rekor terbarunya di level 6.689.

Meski begitu, Analis Mirae Asset Sekuritas Taye Shim melihat, aksi beli yang dilakukan investor asing di awal pekan ini tak serta merta mengartikan bahwa investor asing sudah kembali membidik pasar saham Indonesia. "Pasar sepertinya masih cenderung wait and see untuk sementara waktu," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (20/2).

Pasalnya, para pelaku pasar termasuk investor asing masih mencerna arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) terkait kenaikan suku bunga dan potensi dampaknya pada nilai tukar.

Hari ini, Selasa (20/2), IHSG merosot 26,41 poin atau 0,39% dan mendarat di level 6,662,88. Net foreign sell di pasar reguler tercatat Rp 87,02 miliar, sedangkan di pasar keseluruhan Rp 198,71 miliar.

Saham komoditas

Namun, secara jangka panjang Taye masih optimistis, pasar saham Indonesia masih menarik bagi investor asing. Adanya potensi peningkatan harga komoditas berkat pelemahan dollar Amerika Serikat (AS) membuat pasar saham Indonesia dilirik para investor asing.

Tak hanya itu, sentimen pemilu pun masih tetap mempengaruhi ketertarikan investor terhadap Indonesia. Pasalnya, Pilkada serentak dan Pemilu Presiden tahun depan akan mendorong tingkat konsumsi. "Hal ini bisa mendorong tingkat inflasi jadi lebih tinggi tahun ini," terang Taye.

Selain kenaikan inflasi, naiknya pengeluaran yang dilakukan masyarakat tahun ini juga memberikan dampak kepada kenaikan penerimaan negara lantaran meningkatnya penerimaan pajak. Peningkatan ini pun mampu membuat pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah semakin bergairah di tahun ini.

Meski investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 6,22 triliun di tahun ini, investor asing nampaknya bakal melakukan aksi beli di pasar saham domestik tahun 2018 ini.

"Karena kalau melihat sejarah, setelah aksi jual besar-besaran, investor asing akan selalu mencatatkan net buy di tahun berikutnya," pungkasnya.

Sebagai contoh, di tahun 2013 lalu IHSG mencatatkan net sell asing hingga Rp 20,46 triliun. Namun keadaan berbalik di tahun 2014 di mana IHSG mencatatkan net buy sebesar Rp 42,60 triliun. Hal yang sama juga terjadi di tahun 2015 ketika investor asing melakukan aksi jual hingga Rp 22,58 triliun namun kembali melakukan aksi beli di tahun 2016 sebesar Rp 16,17 triliun.

Meningkatnya konsumsi tersebut membuat Taye pun yakin sektor konsumsi bakal jadi sektor yang diincar para investor asing. Kenaikan harga komoditas seperti batubara dan minyak bumi juga bakal jadi sektor yang diincar investor asing di tahun ini.

Sedangkan sektor perbankan, meski masih mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi dari IHSG secara year-to-date, Taye tidak menyarankan investor untuk masuk ke sektor ini. "Saat ini valuasinya sudah terlalu tinggi sehingga sektor ini kurang menarik," paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[ntensive Boothcamp] Business Intelligent with Ms Excel Pre-IPO : Explained

[X]
×