kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Palm oil rontok pasca kenaikan bea keluar


Kamis, 03 April 2014 / 16:19 WIB
Palm oil rontok pasca kenaikan bea keluar
ILUSTRASI. 6 Cara Copy Paste di Laptop Windows hingga Macbook, Bisa Lewat Keyboard dan Mouse. Tribun Jabar/Gani Kurniawan


Reporter: Dina Farisah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Harga CPO mengalami tekanan pada awal April ini. Komoditas ini rontok pasca pemberlakuan kenaikan pajak ekspor atau bea keluar (BK) CPO oleh produsen terbesar dunia, Indonesia dan Malaysia.

Mengutip Bloomberg, Kamis (3/4) pukul 16.00, kontrak CPO bulan Juni 2014 di Malaysia Derivatives Exchenge (MDE) berada di level RM 2.614 per metrik ton. Harga ini turun 1,28% dibanding hari sebelumnya. Sebelum pemberlakuan kenaikan bea keluar, harga CPO masih berada di level RM 2.634 per metrik ton.

Zulfirman Basir, Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures menuturkan, penurunan harga didominasi oleh kekhawatiran outlook permintaan. Harga CPO kian tertekan pasca data Intertek pada hari Senin (31/3) menunjukkan penurunan ekspor palm oil Malaysia sebesar 3,1% untuk bulan Maret. Selain itu, data Kamis (3/4) pagi menunjukkan berkurangnya aktivitas sektor non manufaktur China.

“Kedua faktor tersebut masih dapat memberikan sentimen negatif untuk palm oil,” ungkap Firman.

Selain itu, lanjut Firman, pelaku pasar cenderung berhati-hati menjelang Pemilu India pada minggu depan. Secara umum, outlook CPO masih bearish.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

[X]
×