kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.650.000   17.000   0,65%
  • USD/IDR 18.080   -50,00   -0,28%
  • IDX 5.940   27,91   0,47%
  • KOMPAS100 774   4,60   0,60%
  • LQ45 590   2,36   0,40%
  • ISSI 204   1,10   0,54%
  • IDX30 334   1,01   0,31%
  • IDXHIDIV20 412   0,98   0,24%
  • IDX80 88   0,50   0,57%
  • IDXV30 112   1,02   0,92%
  • IDXQ30 107   0,02   0,02%

Optimisme Konsumen Melemah, Emiten Ritel dan Elektronik Rentan Tertekan


Jumat, 10 Juli 2026 / 09:33 WIB
Optimisme Konsumen Melemah, Emiten Ritel dan Elektronik Rentan Tertekan
ILUSTRASI. Daya beli masyarakat melemah, sektor fesyen hingga elektronik paling rentan. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Optimisme masyarakat terhadap perekonomian nasional kembali melemah. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang turun dari 120,9 pada Mei menjadi 117,8 pada Juni 2026.

Penurunan tersebut menandai pelemahan IKK selama tiga bulan berturut-turut dan menjadi level terendah sejak September 2025. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap laju konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penurunan IKK merupakan sinyal bahwa optimisme masyarakat mulai berkurang. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pola konsumsi rumah tangga, terutama untuk pengeluaran non-prioritas.

"Ketika konsumen menjadi lebih berhati-hati, pengeluaran untuk barang-barang non-esensial biasanya akan ditunda, sehingga dapat menekan pertumbuhan penjualan emiten konsumer dan ritel," kata Nafan kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).

Baca Juga: IHSG Bergerak Fluktuatif di Awal Perdagangan Jumat (10/7), ANTM Pimpin Penguatan LQ45

Meski demikian, Nafan menegaskan bahwa kondisi saat ini belum dapat dikategorikan suram. Pasalnya, IKK masih bertahan di atas level 100, yang menunjukkan bahwa konsumen secara umum masih berada di zona optimistis, meskipun tingkat keyakinan tersebut mulai menurun.

Menurutnya, dampak pelemahan IKK juga tidak akan dirasakan secara merata oleh seluruh subsektor konsumer. Emiten yang bergerak di sektor kebutuhan pokok atau consumer staples cenderung lebih tangguh karena permintaan terhadap produk sehari-hari relatif stabil.

Sebaliknya, perusahaan yang mengandalkan penjualan produk diskresioner, seperti fesyen, furnitur, elektronik, hingga barang mewah, diperkirakan lebih rentan terhadap pelemahan daya beli masyarakat.

Karena itu, penurunan IKK lebih tepat dipandang sebagai sinyal perlambatan pertumbuhan konsumsi, bukan sebagai indikasi bahwa seluruh sektor konsumer akan mengalami penurunan kinerja secara signifikan.

Nafan menyebut sejumlah emiten yang dinilai paling sensitif terhadap pelemahan keyakinan konsumen. Salah satunya adalah PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), mengingat sebagian besar pendapatannya berasal dari penjualan produk fesyen, gaya hidup, dan ritel premium yang sangat dipengaruhi tingkat kepercayaan konsumen.

Selain MAPI, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) juga berpotensi terdampak. Penjualan perlengkapan rumah tangga dan kebutuhan renovasi umumnya menjadi pos pengeluaran yang dapat ditunda ketika masyarakat mulai menekan belanja.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Begini Prospek Saham Kalbe Farma (KLBF) hingga Akhir 2026

Emiten lain yang dinilai rentan adalah PT MDS Retailing Tbk (LPPF), yang mengandalkan belanja masyarakat kelas menengah, serta PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), karena produk elektronik dan telepon genggam termasuk kategori pembelian yang dapat ditunda.

Di sisi lain, emiten sektor kebutuhan pokok dan kesehatan diperkirakan masih memiliki daya tahan yang lebih baik. Saham-saham seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dinilai relatif defensif karena menawarkan produk kebutuhan pokok dan layanan kesehatan yang permintaannya cenderung stabil meskipun daya beli masyarakat melemah.

"Investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu indikator, tetapi melihat keseluruhan kondisi makroekonomi, seperti inflasi, suku bunga, pertumbuhan PDB, penyerapan tenaga kerja, dan daya beli masyarakat," ujar Nafan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×