kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.521   21,00   0,12%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Obat kuat Wall Street: Data kepercayaan konsumen


Sabtu, 10 November 2012 / 05:47 WIB
ILUSTRASI. 4 Rekomendasi Face Wash Untuk Pemilik Kulit Kombinasi di Bawah Rp50.000


Sumber: Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

NEW YORK. Mayoritas saham yang diperdagangkan di bursa AS ditutup positif pada akhir pekan. Data menunjukkan, pada penutupan pasar pukul 16.00 waktu New York, indeks Standard & Poor's naik 0,2% menjadi 1.379,85. Dengan demikian, sepanjang pekan ini, indeks S&P sudah turun 2,4%.

Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,1% menjadi 12.815,39. Volume transaksi hari ini melibatkan 6,6 miliar saham atau 11% di atas volume rata-rata tiga bulanan.

Pergerakan sejumlah saham turut mempengaruhi bursa AS. Beberapa di antaranya: Boeing Co, Caterpillar Inc, dan AT&T Inc yang naik setidaknya 1%. Lalu, ada saham Apple Inc yang naik 1,7% setelah terpangkas 8% dalam tiga hari sebelumnya. Lalu ada saham JC Penney CO yang turun 4,8% setelah melaporkan kerugian kuartal tiga yang lebih besar daripada estimasi analis.

Adapun faktor-faktor yang mendongkrak bursa AS adalah data AS yang menunjukkan kepercayaan konsumen melonjak ke level tertinggi dalam lima tahun terakhir sehingga meredakan kecemasan mengenai negosiasi fiscal cliff.

"Data sentimen konsumen merupakan data yang sangat kuat dan memberikan kekuatan pada pergerakan pasar," ujar Timothy Ghriskey, chief investment officer Solaris Group LLC. Dia menambahkan, meski demikian, saat ini fokus investor tertuju pada fiscal cliff. "Kemungkinan ada pergerakan untuk mendorong politisi pada kesepakatan sehingga kita tidak akan jatuh ke jurang resesi," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×