kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Minyak melaju mendekati US$ 50 lagi


Kamis, 23 Juni 2016 / 20:32 WIB


Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Harga minyak menguat meski penurunan cadangan minyak Amerika Serikat (AS) tidak sebesar ekspektasi. Optimisme pasar terhadap hasil referendum Brexit mampu menjaga pergerakan harga minyak.

Mengutip Bloomberg, Kamis (23/6) pukul 19.30 WIB, harga minyak WTI kontrak pengiriman Agustus 2016 di New York Mercantile Exchange menguat 1,4% ke level US$ 49,85 per barel dibanding sehari sebelumnya.

Analis PT SoeGee Futures, Nizar Hilmy memaparkan, harga minyak kembali naik setelah tergerus di hari Rabu (22/6). Energy Information Administration (EIA) merilis data cadangan minyak Amerika Serikat (AS) pekan lalu turun 917.000 barel atau lebih rendah dari proyeksi penurunan sebesar 1,3 juta barel. Angka tersebut juga berbeda dari American Petroleum Institute (API) yang merilis cadangan minyak AS pekan lalu turun hingga 5,2 juta barel.

Menurut laporan EIA, stok minyak di Cushing, Oklohama yang menjadi titik pengiriman minyak WTI turun 1,28 juta barel menjadi 65,2 juta. Sementara pasokan AS turun menjadi 530,6 juta barel namun tetap berada di atas rata-rata lima tahun sebesar 100 juta barel.

Saat ini, keyakinan Inggris tetap di Uni Eropa sedikit mengangkat harga minyak. Dalam beberapa polling yang dirilis sebelum referendum, warga Inggris ingin tetap bergabung dengan Uni Eropa. Perdana Menteri Inggris hingga anggota kongres pun menginginkan hal sama.

Meski demikian,kenaikan minyak masih tertahan lantaran belum ada kepastian hasil referendum Brexit. "Referendum sebenarnya tidak mempengaruhi harga minyak, tetapi berpengaruh kepada pasar komoditas secara umum," kata Nizar.

Meski optimistis terhadap hasil referendum Brexit, pasar masih enggan mengambil resiko. Dengan asumsi Inggris tetap bergabung dengan Uni Eropa, maka harga minyak dapat naik tajam sehingga memicu koreksi teknikal setelahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×