Reporter: Shabrina Almaira | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menggabungkan dua anak usahanya, yakni PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) dan PT Krakatau Information Technology (KIT). Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), transaksi afiliasi ini resmi dilaksanakan pada Senin (12/10/2026).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, penggabungan KSI dan KIT merupakan langkah strategis KRAS untuk menyederhanakan struktur bisnis grup, meningkatkan efektivitas koordinasi antar entitas, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dan infrastruktur pendukung.
Sinergi antara layanan infrastruktur dan teknologi informasi berpotensi menciptakan efisiensi biaya operasional, memperkuat integrasi sistem digital, meningkatkan produktivitas, serta mengoptimalkan kualitas layanan kepada pelanggan.
Meski demikian, Nafan menilai dampak finansial pasca merger tetap bergantung pada keberhasilan integrasi dan realisasi penghematan biaya. Dalam jangka pendek, manfaatnya diperkirakan lebih terlihat pada efisiensi proses bisnis, sedangkan kontribusi signifikan terhadap laba bersih membutuhkan waktu.
Sehingga investor perlu mencermati laporan keuangan kuartalan KRAS untuk melihat apakah sinergi tersebut mampu menurunkan beban operasional, meningkatkan margin, dan memperbaiki arus kas perusahaan.
Baca Juga: Morgan Stanley Jual 1,75 Miliar Saham GOTO, Kepemilikan Turun Jadi 5,96%
Untuk prospek bisnis KRAS hingga akhir 2026, Nafan melihat potensi membaik seiring berlanjutnya program restrukturisasi, peningkatan utilisasi produksi, dan pemulihan volume penjualan baja.
Katalis positif lainnya mencakup pertumbuhan permintaan baja domestik, percepatan pembangunan infrastruktur, pengembangan industri hilir. Serta kemampuan perusahaan mengendalikan biaya produksi dan beban keuangan.
Namun, investor perlu mencermati risiko volatilitas harga bahan baku dan baja global, persaingan dengan produk baja impor, ketidakpastian permintaan domestik, beban utang, serta kebutuhan modal kerja yang relatif besar.
“Dari perspektif pasar modal, merger KSI dan KIT berpotensi menjadi sentimen positif bagi saham KRAS karena mencerminkan upaya perusahaan memperkuat efisiensi dan sinergi bisnis. Namun, aksi korporasi ini belum tentu langsung mendorong kenaikan harga saham secara berkelanjutan karena pasar pada akhirnya akan menilai dampak nyata merger terhadap kinerja keuangan,” ujar Nafan kepada Kontan Jumat (16/10/2026).
Investor perlu memperhatikan pertumbuhan pendapatan, perbaikan margin keuntungan, penurunan beban bunga, perkembangan restrukturisasi utang, serta prospek industri baja domestik. Dari sisi teknikal, pergerakan harga saham dan volume transaksi juga perlu dicermati untuk mengidentifikasi apakah respons pasar didukung oleh akumulasi yang berkelanjutan atau hanya bersifat sementara.
Dengan mempertimbangkan sejumlah faktor tersebut, Nafan merekomendasikan investor untuk wait and see terhadap saham KRAS hingga terlihat perbaikan fundamental yang lebih terukur. Sebaliknya, apabila sinergi belum menghasilkan peningkatan profitabilitas yang konsisten, potensi kenaikan saham dapat tetap terbatas.
Di sisi lain, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai penggabungan PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) dan PT Krakatau Information Technology (KIT) bertujuan merampingkan struktur anak usaha sejalan dengan arahan Danantara. Aksi korporasi ini berpotensi meningkatkan efisiensi biaya overhead dan administrasi.
Namun, karena kinerja keuangan KSI dan KIT telah dikonsolidasikan, merger tersebut tidak menambah pendapatan KRAS. Dampaknya lebih berupa efisiensi yang terealisasi secara bertahap dan baru terlihat beberapa kuartal setelah proses integrasi selesai.
Baca Juga: MDKA Terbitkan Obligasi Rp 4,12 Triliun untuk Bayar Utang
Abida menambahkan, prospek kinerja KRAS hingga akhir 2026 akan lebih ditentukan oleh perkembangan bisnis baja. KRAS telah berbalik laba pada semester I-2026 seiring kenaikan harga HRC.
Katalis positif bagi kinerja KRAS antara lain permintaan baja dari program pembangunan tiga juta rumah dan proyek infrastruktur, serta efisiensi pasca restrukturisasi.
Di sisi lain, investor perlu mencermati risiko masuknya baja impor berharga murah, pelemahan rupiah, besarnya beban utang, serta permintaan konstruksi yang tertahan suku bunga tinggi.
“Dari sisi prospek pergerakan saham, merger menjadi sentimen positif tambahan, namun bukan penggerak utama.” jelas Abida kepada Kontan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














