kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.007,14   -0,66   -0.07%
  • EMAS987.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Menguji Ketahanan Pasar di Tengah Isu Reshuffle dan Bergulirnya Tahun Politik


Rabu, 18 Mei 2022 / 08:08 WIB
Menguji Ketahanan Pasar di Tengah Isu Reshuffle dan Bergulirnya Tahun Politik
ILUSTRASI. Pelaku pasar tampaknya akan lebih mencermati sentimen global ketimbang isu reshuffle.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Isu-isu politik semakin kencang bergulir menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Memasuki tahun politik, sejumlah partai mulai bermanuver menjalin koalisi.

Seperti yang dijalin oleh Partai Golkar, PPP dan PAN yang membentuk Koalisi Indonesia Bersatu. Di sisi lain, menjelang masa akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo, isu kocok ulang kabinet atau reshuffle pun kembali bertiup.

Lalu, seberapa jauh isu-isu politik tersebut bisa berimbas terhadap pasar dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)?

Baca Juga: 38 Perusahaan Mengantre IPO Meski IHSG Bearish

Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus melihat jika isu politik seperti reshuffle kabinet berkaitan dengan sektor ekonomi, maka hal tersebut berpeluang membawa efek bagi pergerakan indeks. Tapi, respons positif atau negatif yang akan ditunjukkan pasar masih bergantung pada rekam jejak tokoh yang bersangkutan dan kebijakan ekonomi yang akan diusungnya.

"Bila diproyeksi meningkatkan pertumbuhan ekonomi, bisa jadi pasar akan merespons secara positif," ujar Daniel saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (17/5).

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan, sentimen politik memang menjadi salah satu faktor yang bisa berdampak bagi pergerakan pasar. Namun, menimbang perkembangan situasi saat ini, pelaku pasar tampaknya akan lebih mencermati sentimen global.

"Karena kita adalah emerging market yang suka atau tidak, eksposure berita global akan mendominasi. Apabila berita global kurang baik, sentimen dalam negeri akan berfungsi sebagai peredam dari tekanan yang muncul. Kalau korelasi sentimen politik, biasanya tergantung dari dampak yang ditimbulkannya," sebut Nico.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat Terbatas pada Rabu (18/5)

Sementara itu, Founder & CEO Finvesol Consulting Fendi Susiyanto meyakini bahwa dampak yang ditimbulkan dari isu politik maupun reshuffle kabinet tidak akan signifikan, apalagi jika kondisi perekonomian masih berkembang ke arah stabilitas. Terlebih, peta politik di Indonesia saat ini relatif sudah tergambar. 

Oleh sebab itu, Fendi pun sepakat dalam kondisi saat ini investor lebih mencermati faktor-faktor makro dan sentimen global. Seperti imbas kenaikan suku bunga The Fed hingga perkembangan eskalasi konflik Rusia-Ukraina yang berdampak bagi harga komoditas.

Melihat pergerakan pasar kemarin, Fendi meyakini IHSG akan kembali berbalik ke arah tren penguatan. Setelah memerah sepanjang pekan lalu, IHSG kini kembali ke zona hijau dengan ditutup menguat 46,47 poin atau 0,70% ke level 6.644,46.

"Kemarin (saat IHSG memerah) hanya profit taking, bukan berarti situasi ambruk. Momentumnya kembali bagus. Apalagi ketika indeks sudah comeback lagi ke level 6.800, berarti indeks sudah mulai balik ke penguatan lagi," terang Fendi.

Baca Juga: IHSG Bersiap Lanjutkan Penguatan Hari Ini, Intip Saham Rekomendasi dari MNC Sekuritas

Head of Retail, Product Research & Development Division PT. Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan juga berpandangan bahwa sekalipun isu reshuffle memberikan dampak, tapi hal tersebut hanya berlaku jangka pendek saja. Reza pun melihat sentimen global lebih banyak mempengaruhi pasar yang masih sangat fluktuatif.

"Untuk reshuffle, mungkin dampaknya tidak akan panjang berhari-hari, mungkin hanya 1-2 hari saja. Pasar juga menanti kebijakan The Fed selanjutnya untuk mengantisipasi lonjakan inflasi. Juga kondisi Rusia dan Ukraina yang semoga menjadi sentimen baik untuk Indonesia," kata Reza.

Sementara itu, Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai isu reshuffle bisa berdampak terbatas bagi sektor-sektor tertentu. Wawan menyoroti kebijakan pemerintah terkait tata niaga minyak goreng atau kelapa sawit, yang berimbas terhadap kebijakan ekspor crude palm oil (CPO).

Baca Juga: Ini Saham-Saham yang Jadi Top Picks Mirae Asset Sekuritas untuk Bulan Ini

Jika reshuffle kabinet nanti bisa menyelesaikan masalah dan mampu membuat kebijakan yang kondusif untuk sektor CPO, maka berpotensi membawa efek yang positif bagi emiten-emiten di sektor tersebut. Sebab, pergerakan saham akan terkait dengan prospek bisnis dan pendapatan emiten ke depan.

"Kalau reshuffle ini mengangkat Menteri yang bisa menyelesaikan problem CPO, itu akan menjadi katalis positif untuk sektor perkebunan. Tapi kalau reshuffle itu jangka pendek. Semua akan kembali pada fundamental dan prospeknya seperti apa," tandas Wawan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×