Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. PT PP Properti Tbk (PPRO) efektif dalam memaksimalkan cadangan lahan (landbank) yang dimiliki. Dengan modal landbank 58 hektare (ha), anak usaha PT PP Tbk (PTPP) ini mampu memoles kinerja.
Yudha Gautama, analis Mandiri Sekuritas, dalam riset 22 Desember mencatat, peforma PPRO sejauh ini masih sesuai target. Perseroan berpeluang besar merealisasikan target pendapatan Rp 1,4 triliun hingga akhir tahun ini.
Hingga akhir November lalu, PPRO memperoleh marketing sales Rp 1,75 triliun. Angka ini setara 88% dari target marketing sales tahun ini Rp 2 triliun. "Ini karena take up rates dari penjualan Grand Kamala Lagoon dan Grand Sungkono Lagoon yang terbilang tinggi," ujar Yudha.
Catatan saja, Grand Kamala Lagoon dan Grand Sungkono Lagoon merupakan proyek utama PPRO. Take up rate yang tinggi dari penjualan kedua proyek ini terlihat sejak periode sembilan bulan tahun 2015.
Sanni Satrio Dwi Utomo, analis Bahana Securities, menambahkan, PPRO cukup efisien dalam penggunaan dana IPO untuk memaksimalkan 58 ha landbank yang dimiliki. Emiten yang melantai 19 Mei 2015 lalu ini menambah 4 ha landbank lagi pada kuartal III dan berencana menambah 4 ha lagi pada akhir tahun ini.
Karena landbank kecil, PPRO lebih memilih portofolio bangunan vertikal. Dengan landbank imut-imut, PPRO bakal banyak mengejar proyek joint venture (JV). PPRO bakal bekerja sama dengan landlord untuk mengembangkan suatu lahan.
Dengan skema ini, PPRO tidak perlu repot-repot mencari tanah dan mengeluarkan dana untuk mengakuisisi. Namun, margin yang ditawarkan skema JV juga tidak sebesar mengembangkan lahan sendiri.
Sanni memprediksi, pendapatan perusahaan tahun depan hanya tumbuh 10% dibandingkan estimasi tahun ini yang sekitar Rp 1,54 triliun.
"Estimasi pertumbuhan itu lebih konservatif dibanding target PPRO," ujar Sanni, Senin (28/12). Tapi, PPRO memiliki beberapa rencana bisnis.
PPRO berencana membangun tiga mall, dua hotel dan satu office tower dalam tiga tahun ke depan. Hal ini bisa menjadi katalis pertumbuhan pendapatan. Tahun 2017, pendapatan PPRO diperkirakan mencapai Rp 1,91 triliun.
Bryan Sjahputra, analis Sinarmas Sekuritas, berpendapat, meski tidak secara langsung, paket kebijakan ekonomi terkait deregulasi investasi di sektor industrial estate berimbas positif bagi PPRO.
Proyek Grand Kamala Lagoon sangat bergantung kawasan industri di sekitar Bekasi. Ketika sentimen kawasan industri positif, permintaan proyek PPRO meningkat, karena menjadi salah satu alternatif bagi konsumen.
"Kami memprediksi, kontribusi Grand Kamala Lagoon terhadap PPRO 50% dan 23% masing-masing untuk tahun ini dan tahun depan," ujar Bryan.
Ia memprediksi, total pendapatan PPRO tahun ini sekitar Rp 1,65 triliun. Angkanya bakal bertambah menjadi Rp 2,11 triliun dan Rp 2,71 triliun di tahun 2016 dan 2017. Labanya diprediksi Rp 265 miliar pada 2015, Rp 357 miliar di 2016, dan Rp 509 miliar pada 2017.
Mengacu pada hal ini, Bryan merekomendasikan buy saham PPRO dengan target Rp 193 per saham. Sanni merekomendasikan hold dengan target Rp 180 per saham. Yudha masih menghitung kembali valuasi PPRO.
Sedikit panduan darinya, saham PPRO ditransaksikan pada rasio harga saham per laba atau PE tahun 2016 sebesar 9 kali.
Anindya Saraswati, analis Danareksa Sekuritas merekomendasikan buy PPRO dengan target harga Rp 242 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












