kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 18.057   23,00   0,13%
  • IDX 4.997   -188,50   -3,64%
  • KOMPAS100 631   -26,97   -4,10%
  • LQ45 488   -20,09   -3,95%
  • ISSI 172   -7,03   -3,92%
  • IDX30 273   -10,40   -3,67%
  • IDXHIDIV20 357   -9,37   -2,56%
  • IDX80 72   -3,02   -4,00%
  • IDXV30 101   -1,50   -1,47%
  • IDXQ30 90   -3,25   -3,49%

Kuasai 28,8% Kapitalisasi Pasar, BEI Keluarkan HSC dari IHSG


Senin, 19 Oktober 2026 / 18:30 WIB
Kuasai 28,8% Kapitalisasi Pasar, BEI Keluarkan HSC dari IHSG
ILUSTRASI. INDONESIA-MSCI/ (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mengeluarkan seluruh saham dengan status konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada perdagangan Senin (19/10), IHSG melemah 3,64% atau turun 188,60 poin ke posisi 4.996,61. Sebanyak 100 saham menguat, 656 saham melemah dan 43 saham ditutup stagnan. Kapitalisasi pasar BEI mencapai Rp 8,86 triliun. 

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik mengatakan, langkah tersebut merupakan salah satu inisiatif baru bursa untuk memperkuat transparansi dan meningkatkan kredibilitas indeks, menyusul pengumuman evaluasi klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI. 

Baca Juga: 7 Emiten Siapkan Buyback Saham di Tengah Anjloknya IHSG

“Untuk memberikan gambaran pergerakan IHSG yang lebih wajar karena adanya potensi risiko pada saham-saham HSC, saham-saham tersebut akan dikeluarkan dari IHSG,” katanya saat ditemui wartawan setelah pertemuan dengan MSCI, Senin (19/10).

Jeffrey menegaskan pengeluaran saham HSC dari perhitungan IHSG bukan berarti delisting. Saham-saham tersebut tetap dapat diperdagangkan di bursa, tetapi pergerakan harganya tidak lagi memengaruhi pergerakan indeks.

Berdasarkan materi pertemuan OJK bersama pelaku pasar, terdapat 63 saham HSC memiliki kapitalisasi pasar Rp 3.076,5 triliun per September 2026. Ini setara 28,8% dari total kapitalisasi pasar BEI sebesar Rp 10.695 triliun.

Meski porsinya besar, kontribusi saham HSC terhadap nilai transaksi harian relatif kecil. Pada September 2026, nilai transaksi harian kelompok ini sekitar Rp 837 miliar, atau hanya sekitar 5% dari total transaksi IHSG sebesar Rp 15,5 triliun.

Adapun kapitalisasi pasar kelompok HSC juga menyusut sekitar 40% dari Rp 5.113 triliun pada Januari menjadi Rp 3.077 triliun pada September 2026. Kapitalisasi terendah tercatat pada Juni, sebesar Rp 2.879 triliun.

Sementara itu, porsi kapitalisasi pasar kelompok HSC turun dari 31,7% pada Januari menjadi 28,8% pada September. Namun, kontribusinya terhadap nilai transaksi harian justru meningkat dari sekitar 2% menjadi 5%, seiring penurunan nilai transaksi IHSG.

Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto menyebut ini menunjukkan perbedaan antara kapitalisasi pasar dan saham yang benar-benar likuid diperdagangkan.

Menurut David, saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dan actual tradable float rendah seharusnya tidak memiliki pengaruh setara saham yang lebih likuid.

“Bobot saham dalam IHSG tidak hanya mempertimbangkan kapitalisasi pasar, tetapi juga tingkat konsentrasi kepemilikan, reliabilitas free float, likuiditas, serta jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan,” katanya. .

Untuk itu, PAEI mengusulkan pengembangan pendekatan JCI tilting menjadi Investability Adjustment Factor (IAF). Dengan pendekatan tersebut, bobot saham dalam IHSG dapat disesuaikan berdasarkan tingkat investability dan ketersediaan saham untuk diperdagangkan.

David menambahkan mekanisme penyesuaian bobot perlu berbasis aturan yang jelas dan dapat direplikasi pelaku pasar. Perhitungannya dapat memanfaatkan data publik, termasuk kepemilikan saham di atas 1% dan 39 klasifikasi investor.

“Semakin tinggi konsentrasi kepemilikan dan semakin rendah actual tradable float suatu saham, semakin kecil bobot efektifnya dalam perhitungan IHSG,” jelasnya. 

Menurut David, dalam kondisi ekstrem, pengurangan bobot hingga nol atau pengecualian saham dari indeks dapat dipertimbangkan dengan kriteria eksplisit. Perubahan metodologi juga perlu dilakukan secara transparan, objektif, dan bertahap melalui konsultasi publik.

David menekankan, penyesuaian metodologi harus disertai perubahan divisor agar perubahan komposisi indeks tidak menimbulkan pergeseran artifisial pada level IHSG. Dengan begitu, perubahan bobot saham tidak menciptakan gambaran pergerakan indeks yang menyesatkan.

Baca Juga: BEI Siapkan Dua Inisiatif Baru untuk Perkuat Transparansi dan Integritas Pasar Modal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×