kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45904,88   4,06   0.45%
  • EMAS1.338.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kondisi Pasar Keuangan Berfluktuatif, Bahana TCW Selektif Memilih Instrumen Investasi


Rabu, 14 Juni 2023 / 17:09 WIB
Kondisi Pasar Keuangan Berfluktuatif, Bahana TCW Selektif Memilih Instrumen Investasi
ILUSTRASI. Budi Hikmat, Kepala Ekonom PT Bahana TCW Investment Management. Bahana TCW menilai saat ini risiko suku bunga dan inflasi cukup terjaga.


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bahana TCW Investment Management mengamati kondisi pasar keuangan domestik yang bergerak cukup fluktuatif saat ini untuk memaksimalkan pengelolaan investasi. Hal ini sebagai dampak dari gejolak pasar keuangan global serta kondisi dalam negeri memasuki tahun politik, menjelang pemilihan umum (Pemilu) 2024.

Berbagai risiko tentunya menjadi perhatian anak usaha IFG ini, mulai dari risiko suku bunga, risiko likuiditas, risiko nilai tukar dan risiko inflasi. Apalagi bank sentral Amerika akan mengadakan rapat The Federal Open Market Committee (FOMC) pada 13-14 Juni, untuk memutuskan arah surat berharga yang dimiliki oleh otoritas, demi mendorong ekspansi sistem keuangan Amerika.

"Kondisi pasar keuangan saat ini cukup berfluktuatif, ditambah dengan meningkatkan sentimen dari dalam negeri menjelang pemilu, risiko yang perlu diperhatikan bila terjadi perubahan kebijakan fiskal dan moneter yang bisa mempengaruhi industri tertentu," ujar Kepala Ekonom Bahana TCW Budi Hikmat dalam siaran pers, Rabu (14/6).

Baca Juga: BI: Di Tengah Ketidakpastian Global, Modal Asing Masuk Rp 75 Triliun ke RI

Dia menyebut, menjaga keseimbangan faktor eksternal dan internal bukanlah hal yang mudah di tengah-tengah kondisi pasar keuangan global yang bisa berubah setiap saat, yang pastinya akan berdampak pada pasar keuangan di dalam negeri. Investor obligasi memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,25%, setelah melakukan pengetatan moneter sangat agresif sejak tahun lalu dengan kenaikan suku bunga.

Pengetatan the Fed tersebut direspons oleh Bank Indonesia (BI), dengan menaikkan suku bunga acuan di dalam negeri dari 3,5% pada Juli 2022, secara bertahap naik menjadi 5,75% pada Januari 2023. Memasuki Februari hingga Mei 2023, BI mempertahankan suku bunga acuan, untuk selanjutnya akan diputuskan kembali dalam rapat dewan gubernur yang akan dilaksanakan pada 21-22 Juni mendatang. 

Bahana menilai saat ini risiko suku bunga dan inflasi cukup terjaga. Tekanan inflasi sejak awal tahun mengalami penurunan, yang tercermin pada angka inflasi Mei 2023 sebesar 4%, dibandingkan akhir tahun lalu yang sempat naik ke 5,51%. Sedangkan nilai tukar rupiah menurut kurs tengah BI pada 5 Juni 2023 sempat tertekan ke level Rp 15.078, perlahan turun ke kisaran Rp 14.948 pada 13 Juni 2023.

"Selain menjaga keseimbangan berbagai risiko yang ada, kami juga cukup ketat dalam memilih saham-saham untuk tempat berinvestasi," katanya. 

Baca Juga: Tekanan Inflasi Turun, Konsumsi dan Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Meningkat

Budi bilang, pengetatan manajemen risiko sangatlah dibutuhkan dalam kondisi pasar keuangan yang berfluktuasi, terutama risiko pasar. Melihat perkembangan pasar sepanjang tahun ini, Bahana lebih memilih untuk memperbesar alokasi aset pada surat berharga dari pada saham sejak kuartal pertama.

Menurut dia, strategi tersebut terbukti mampu mencatat kinerja positif yang tercermin dari indeks IBPA surat utang negara (SUN) telah mencapai 5,57% hingga akhir Mei, dibanding kinerja saham yang tercatat negatif 0,45% sudah termasuk dividen. 

Mencermati kestabilan rupiah dan 7-day repo rate yang lebih tinggi dari inflasi tahunan, sebetulnya BI punya peluang menurunkan bunga. Namun BI kemungkinan lebih leluasa menurunkan bunga setelah penurunan the Fed. Ruang moneter yang lebih akomodatif dapat dilakukan BI melalui kebijakan macroprudential seperti penurunan giro wajib minimum.

"Ke depan potensi penguatan saham semakin terbuka, setelah terjadinya rally di pasar obligasi. Yield yang lebih rendah akan menurunkan risk free rate sehingga meningkatkan valuasi saham," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×