Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.160
  • SUN95,68 0,05%
  • EMAS663.000 -1,19%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) 2019 diproyeksikan netral

Kamis, 14 Februari 2019 / 22:36 WIB

Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) 2019 diproyeksikan netral
ILUSTRASI. Vale - Kontan Seremonia Online

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Pelemahan harga batubara dan minyak yang terjadi beberapa waktu terakhir, dinilai tidak memberikan dampak atau pengaruh signifikan terhadap laba pendapatan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), atau produsen nikel terbesar ketiga di dunia.

Sebagai informasi, sekitar 30% beban bahan bakar komoditas (Cost of Goods Sold, COGS) INCO terdiri dari batubara dan minyak. Sehingga kondisi harga batubara dan minyak dianggap turut mempengaruhi kinerja INCO.


Analis Kresna Sekuritas, Robertus Yanuar Hardy menjelaskan jika tempat pengolahan nikel INCO, tidak menggunakan batubara atau minyak biasa, namun menggunakan bahan bakar yang mengandung sulfur tinggi. “Tak hanya itu, mereka juga menggunakan batubara berkalori tinggi atau kokas (coking coal),” jelasnya pada Kamis (14/2).

Dirinya menjelaskan jika harga batubara berkalori tinggi dan bahan bakar minyak bersulfur tinggi, tidak mengalami penurunan harga dan cenderung stabil di pasar komoditas dibandingkan harga batubara kalori rendah dan minyak mentah.

Sebagai informasi tambahan, harga batubara kembali merosot sebesar 1,19% ke level US$ 91,70 per metric ton pada perdagangan Kamis (14/2). Sebelumnya, harga batubara tercatat berada di level US$ 92,80 per metric ton. Dengan demikian, selama sepekan, harga batubara sudah terpangkas sebesar 2,64% secara point to point. “Harga batubara kalori tinggi, 6.300 GAR, jauh lebih stabil di kisaran US$ 90 – US$ 100 per ton di ICE Newcastle,” tutur Robertus.

Sementara itu, harga nikel saat ini berada di kisaran US$ 12.000 per ton. Angka tersebut, dianggap masih mendekati biaya produksi INCO yang berada di kisaran US$ 10.000 – US$ 11.000 per ton. “Jadi, margin biaya masih tipis,” tambahnya.

Namun demikian, Robertus melihat kinerja dan peningkatan laba INCO tahun ini bergerak netral. “Sebab tren penurunan harga batubara atau bahkan minyak, tidak memberi dampak signifikan terhadap laba INCO,” ujarnya.

Robertus Yanuar merekomendasikan Hold saham nikel di target harga Rp 3.700 per saham. “Tahun ini INCO masih netral saja,” tandasnya.


Reporter: Amalia Fitri
Editor: Azis Husaini
Video Pilihan

Tag
TERBARU
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.0473 || diagnostic_web = 0.9670

Close [X]
×